PT Bank Bumi Arta Tbk

OJK Bersiap Hapus KBMI 1, Merger Perbankan Jadi Prioritas, Saham-Saham Ini Mulai Bergerak

Jakarta, INVESTOR IDN– Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sedang menggodok langkah besar dengan menghapus kategori Kelompok Bank Berdasarkan Modal Inti (KBMI) 1 dari peta industri perbankan nasional. Jika rencana ini benar-benar diimplementasikan, seluruh bank dengan modal inti di bawah Rp6 triliun tak lagi leluasa memilih jalan sendiri, tapi harus konsolidasi naik kelas ke KBMI 2 minimal lewat merger atau akuisisi. Langkah ini diarahkan untuk memperkuat struktur industri dan memperkecil risiko bank kecil ambruk di tengah persaingan digital yang semakin masif.

Perubahan ini akan mengubah lanskap industri perbankan di Indonesia. Bank-bank yang selama ini dikenal sebagai “bank mini”, seperti Bank Mega Syariah, Superbank, dan Bank Nobu, kini menghadapi tantangan untuk bertahan di era kompetisi teknologi dan digitalisasi layanan. OJK menilai bank dengan modal terbatas sulit bersaing dalam pengembangan super app, inovasi, dan fitur digital yang membutuhkan investasi infrastruktur besar.

Konsolidasi digadang-gadang sebagai solusi bertahan hidup para bank KBMI 1. OJK sudah mengirim surat kepada puluhan bank mini per 24 Oktober 2025, meminta agar bergerak cepat. Jika tak kuat menambah modal, merger jadi jawaban.

Saham-Saham KBMI 1 Terancam, Tapi Punya Peluang

Bagi investor, perubahan ini langsung mempengaruhi sentimen dan prospek saham-saham KBMI 1 di pasar modal. Emiten bank seperti PT Bank Artha Graha Internasional Tbk (INPC), PT Bank Nationalnobu Tbk (NOBU), PT Bank Bumi Arta Tbk (BNBA), dan sejumlah nama lain langsung menjadi sorotan.

Potensi akuisisi dan merger membuat saham beberapa bank KBMI 1 justru bisa menjadi incaran investor strategis. Valuasi saham bank-bank ini tergolong murah dan likuid, dengan peluang revaluasi harga jika ada aksi korporasi masuk. Saham INPC, misalnya, masih stabil di kisaran Rp150-156 per lembar, dengan price to book value (PBV) sekitar 1,00. Walau price to earning ratio (PER) terbilang tinggi—mencerminkan pertumbuhan belum optimal—saham ini bisa bergerak positif jika dibidik bank KBMI 2 atau investor besar.

NOBU juga memiliki modal di bawah Rp6 triliun dan likuiditas cukup baik. Dengan harga saham di area Rp500-520, bank ini rentan jadi target akuisisi, apalagi punya niche pasar khusus ekspatriat Jepang. Jika ada aksi merger, posisi pemegang saham eksisting bisa terdongkrak.

BNBA menjadi lain cerita. Harga saham turun sekitar 14,69% dalam sebulan terakhir, namun penurunan ini justru membuka ruang bagi investor yang ingin masuk di valuasi murah. Merger horizontal antar bank KBMI 1 juga mulai jadi skenario yang diamati analis Panin Sekuritas, walau memang tantangan terbesar akan terjadi dalam hal integrasi bisnis.

Risiko Saham Bank Mini: Turun Harga dan Dilusi

Sebagian bank KBMI 1 lain justru terancam tekanan jual. Bank digital seperti PT Bank Neo Commerce Tbk (BBYB) dan PT Krom Bank Indonesia Tbk (BBSI) yang masih dalam fase pertumbuhan bisa menghadapi risiko dilusi jika rights issue dilakukan, atau stagnan kalau gagal mencari mitra strategis. Saham bank syariah kecil seperti PT Bank Aladin Syariah Tbk (BANK) berisiko melambat pertumbuhan karena rencana spin-off unit usaha syariah (UUS) bisa tertunda bila tak mampu menaikkan modal inti di atas Rp6 triliun.

Investor perlu waspada, sebab merger dan akuisisi acap kali berdampak pada struktur kepemilikan dan hak suara. Bank yang gagal menambah modal atau menarik investor strategis berisiko delisting, atau jatuh ke level harga minor selama proses negosiasi berlangsung.

Strategi Investor Menghadapi Kebijakan OJK

Empat langkah bisa dipertimbangkan investor dalam menjaga portofolio di tengah transformasi industri ini. Pertama, pilih saham bank KBMI 1 yang punya fundamental baik dan peluang diakuisisi. Kedua, hindari bank yang berkinerja buruk, punya NPL tinggi atau kepemilikan yang rumit. Ketiga, cermati akumulasi volume transaksi, sinyal aksi korporasi dan negosiasi merger. Keempat, diversifikasikan ke saham bank KBMI 2 dan KBMI 3 yang berpotensi melakukan aksi akuisisi.

Dari sisi jangka panjang, konsolidasi bank mini diyakini membawa dampak positif bagi sistem keuangan Indonesia. Jumlah bank umum nasional bisa menyusut signifikan, tetapi kompetisi dan inovasi tetap harus dijaga. OJK sendiri menegaskan pendekatan ini masih dalam tahap persuasif, aturan baru masih disiapkan dan monitoring ketat dalam proses merger jadi perhatian utama.

Hasil akhir konsolidasi ini akan menentukan kesehatan dan daya saing perbankan domestik di era digital. Bagi investor, risiko dan peluang berjalan beriringan. Siapa cepat, dia dapat keuntungan. Siapa lambat, bisa jadi harus siap kehilangan momentum.

More From Author

Grab Akusisi Goto

Borong Saham: BlackRock dan JPMorgan Gencar Akumulasi GOTO di Tengah Isu Merger Grab

US Shutdown

Shutdown AS Akan Berakhir Pekan Ini, Pasar Global Lega Tapi MSCI Tunggu Momentum

blank
ASA Media
ASA Media

Video Pilihan