Jakarta, INVESTOR IDN – Pembentukan Danantara sebagai holding investasi BUMN merupakan langkah strategis pemerintah untuk mengonsolidasikan aset negara dan meningkatkan efisiensi pengelolaan kekayaan nasional. Namun, di tengah banyaknya kasus mismanagement yang melanda sejumlah perusahaan BUMN, muncul pertanyaan penting: apakah perusahaan-perusahaan tersebut sudah layak untuk langsung dimasukkan ke dalam Danantara? Jawabannya adalah belum. Transformasi bisnis secara menyeluruh harus menjadi prasyarat utama sebelum integrasi dilakukan.
Mengapa Transformasi Bisnis Diperlukan?
Banyak perusahaan BUMN masih menghadapi masalah mendasar dalam tata kelola, efisiensi operasional, dan transparansi. Mismanagement yang bersifat sistemik—mulai dari pemborosan anggaran, konflik kepentingan, hingga intervensi politik—telah menghambat kinerja dan merusak reputasi perusahaan-perusahaan tersebut. Jika entitas yang belum sehat ini langsung dimasukkan ke dalam Danantara, maka holding tersebut berisiko menjadi tempat penampungan masalah, bukan solusi strategis.
Transformasi bisnis diperlukan untuk memastikan bahwa setiap perusahaan yang masuk ke dalam Danantara telah memiliki fondasi yang kuat, baik dari sisi keuangan, operasional, maupun tata kelola. Tanpa pembenahan ini, holding akan kesulitan menjalankan fungsinya sebagai katalisator investasi dan pertumbuhan ekonomi.
Dimana Letak Urgensinya?
Urgensi transformasi bisnis BUMN terletak pada tiga titik kritis:
- Tata Kelola dan Kepemimpinan Struktur manajemen dan dewan direksi harus dievaluasi secara menyeluruh. Penempatan jabatan harus berbasis meritokrasi, bukan afiliasi politik. Prinsip Good Corporate Governance (GCG) harus diterapkan secara konsisten untuk membangun budaya akuntabilitas dan profesionalisme.
- Kesehatan Keuangan dan Model Bisnis Audit keuangan yang transparan dan independen perlu dilakukan untuk mengidentifikasi beban utang, potensi fraud, dan efisiensi biaya. Model bisnis yang tidak relevan atau tidak produktif harus direstrukturisasi, dan fokus perusahaan harus diarahkan pada sektor yang memiliki nilai tambah dan daya saing tinggi.
- Budaya Organisasi dan Sumber Daya Manusia Transformasi tidak akan berhasil tanpa perubahan budaya kerja. BUMN harus membangun lingkungan kerja yang inovatif, adaptif, dan berorientasi pada hasil. Pengembangan kompetensi SDM melalui pelatihan dan rekrutmen berbasis kinerja menjadi kunci keberhasilan jangka panjang.
Transformasi bisnis BUMN bukan sekadar langkah teknis, tetapi strategi fundamental untuk memastikan keberhasilan Danantara sebagai holding investasi negara. Tanpa pembenahan menyeluruh, integrasi hanya akan memperbesar risiko fiskal dan reputasi. Sebaliknya, jika transformasi dilakukan dengan serius dan terukur, maka Danantara dapat menjadi simbol kebangkitan BUMN yang modern, efisien, dan berdaya saing global. Dengan fondasi yang kuat, holding ini akan mampu menarik investasi, mendorong pertumbuhan ekonomi, dan menciptakan lapangan kerja yang berkelanjutan.
Peran Vital BUMN dalam Pembangunan Nasional
Badan Usaha Milik Negara (BUMN) memiliki peran vital dalam menopang perekonomian nasional, menyediakan layanan publik, dan menciptakan lapangan kerja. Namun, banyak BUMN masih menghadapi tantangan serius seperti mismanagement, inefisiensi, dan rendahnya daya saing. Untuk menjadikan BUMN sebagai motor pembangunan yang tangguh dan adaptif, diperlukan transformasi bisnis yang terstruktur dan bertahap. Transformasi ini bukan sekadar restrukturisasi organisasi, tetapi perubahan mendalam dalam cara berpikir, bekerja, dan berinovasi.
Tahap 1: Diagnostik dan Evaluasi Menyeluruh
Langkah pertama adalah melakukan audit dan evaluasi menyeluruh terhadap kondisi keuangan, operasional, dan tata kelola setiap BUMN. Pemerintah dan Kementerian BUMN harus mengidentifikasi beban utang dan potensi kerugian, proyek atau unit bisnis yang tidak produktif, risiko hukum dan reputasi, serta kelemahan dalam struktur manajemen dan sumber daya manusia. Evaluasi ini menjadi dasar untuk menentukan prioritas transformasi dan menetapkan peta jalan yang realistis.
Tahap 2: Reformasi Tata Kelola dan Kepemimpinan
Setelah evaluasi, reformasi tata kelola menjadi langkah krusial. Ini mencakup penempatan direksi dan komisaris berbasis meritokrasi, bukan afiliasi politik. Prinsip Good Corporate Governance (GCG) harus diterapkan secara konsisten untuk membangun budaya akuntabilitas dan profesionalisme. Transparansi dalam pengambilan keputusan dan pelaporan keuangan harus diperkuat, serta fungsi audit internal dan manajemen risiko ditingkatkan.
Tahap 3: Restrukturisasi Model Bisnis dan Portofolio
BUMN juga harus fokus pada core business yang memiliki nilai tambah dan daya saing tinggi. Langkah-langkahnya meliputi penutupan atau divestasi unit bisnis yang tidak relevan atau merugi, penggabungan entitas yang memiliki fungsi serupa untuk efisiensi, serta pengembangan model bisnis baru yang adaptif terhadap perubahan teknologi dan pasar. Restrukturisasi ini bertujuan untuk menciptakan BUMN yang ramping, fokus, dan berorientasi hasil.
Tahap 4: Transformasi Digital dan Inovasi
Digitalisasi harus menjadi bagian integral dari transformasi BUMN. Ini mencakup penerapan sistem ERP, e-procurement, dan digital reporting, pengembangan layanan digital untuk pelanggan dan mitra bisnis, investasi dalam teknologi seperti kecerdasan buatan, big data, dan komputasi awan, serta mendorong budaya inovasi dan kolaborasi lintas unit. Digitalisasi akan meningkatkan efisiensi, transparansi, dan daya saing BUMN di era ekonomi digital.
Tahap 5: Penguatan SDM dan Budaya Organisasi
Transformasi tidak akan berhasil tanpa perubahan pada sumber daya manusia. BUMN harus melakukan pelatihan dan pengembangan kompetensi secara berkelanjutan, menerapkan sistem penilaian kinerja yang objektif dan berbasis hasil, membangun budaya kerja yang profesional, adaptif, dan berintegritas, serta memberikan ruang bagi generasi muda dan talenta digital untuk berkontribusi. Sumber daya manusia yang unggul adalah aset utama dalam menghadapi tantangan global.
Tahap 6: Keterbukaan terhadap Pasar dan Mitra Strategis
Terakhir, BUMN perlu membuka diri terhadap kerja sama dengan investor, mitra swasta, dan pasar modal. Ini dapat dilakukan melalui IPO atau penerbitan obligasi untuk pendanaan ekspansi, kemitraan strategis dalam proyek infrastruktur dan teknologi, serta penerapan standar pelaporan internasional seperti IFRS dan ESG. Keterbukaan ini akan meningkatkan kredibilitas dan memperluas akses pembiayaan.
Penutup: Transformasi Sebagai Perjalanan Strategis
Transformasi BUMN bukanlah proses instan, melainkan perjalanan strategis yang membutuhkan komitmen, keberanian, dan konsistensi. Dengan langkah-langkah bertahap yang terukur, BUMN dapat bertransformasi menjadi entitas bisnis negara yang modern, efisien, dan berdaya saing global. Lebih dari sekadar perusahaan, BUMN yang sehat akan menjadi instrumen pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan bagi seluruh rakyat Indonesia.

