PT Indo American Seafoods Tbk

Udang Mahal Emas Dunia? ISEA Tunjukkan Pemain Indonesia Siap Rebut Pasar Global

Jakarta, INVESTOR IDN – Industri perikanan dunia sedang mengalami transformasi besar-besaran. Di tahun 2025, saat kebijakan tarif internasional berguncang dan persaingan pasar semakin tajam, ada satu pemain Indonesia yang tampil dengan strategi berani—meninggalkan ketergantungan pada pasar Amerika Serikat dan menembus pasar-pasar baru yang lebih menguntungkan.

PT Indo American Seafoods Tbk (ISEA) bukan sekadar perusahaan pengolah udang biasa. Dalam semester pertama 2025, perusahaan asal Lampung ini mencatat kinerja luar biasa dengan lonjakan penjualan mencapai 113,8 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu, meraup Rp228,05 miliar. Angka ini membuktikan satu hal: ketika mayoritas industri berjuang menghadapi tekanan tarif, ISEA justru sedang naik daun.

Gelombang Tsunami Tarif, Peluang Emas ISEA

Jika Anda mengikuti perkembangan perdagangan internasional, Anda pasti tahu tentang gelombang tarif yang diterbangkan oleh pemerintahan Amerika Serikat. Tarif pada produk udang Indonesia resmi diterapkan sebesar 19 persen—jauh lebih rendah dari ancaman awal 32 persen, tetapi tetap cukup untuk mengguncang industri yang mengandalkan pasar AS sebagai tulang punggung.

Sebelumnya, AS menyerap sekitar 63,7 persen dari total ekspor udang Indonesia. Angka ini mencerminkan ketergantungan yang sangat tinggi. Namun, di situlah letak kecerdikan ISEA berbeda dari kompetitor lainnya.

Saat kompetitor lain masih mencari cara menyesuaikan diri, manajemen ISEA di bawah pimpinan Direktur Utama Ibnu Syena Alfitra sudah mengambil keputusan strategis: diversifikasi pasar. Langkah ini bukan semata-mata respons terhadap tekanan tarif, melainkan kalkulasi bisnis yang matang untuk jangka panjang.

“Kami sudah mulai mengalihkan ekspor yang dulu ke pasar AS sekarang ke Jepang dan China. Selain itu, kami juga masih menjajaki negara lain yang potensial,” kata Ibnu Syena dalam paparan publik Ekspor pertama pada Juni 2025.

Fondasi Produksi yang Kokoh di Lampung

Kekuatan ISEA bukan hanya terletak pada strategi bisnis, tetapi juga pada infrastruktur produksi yang solid. Perusahaan yang didirikan pada tahun 2006 ini mengoperasikan dua fasilitas produksi di Lampung dengan total kapasitas pengolahan mencapai 70 ton udang per hari. Fasilitasnya dilengkapi dengan cold storage berkapasitas 2.700 ton, memberikan fleksibilitas untuk mengelola permintaan pasar yang dinamis.

Yang lebih menarik lagi, ISEA juga mengintegrasikan kegiatan budidaya udang melalui anak usahanya, PT Indokom Samudra Persada, dengan 96 kolam tambak budidaya. Integrasi hulu-hilir ini memberikan ISEA kontrol penuh terhadap kualitas dan ketersediaan bahan baku—suatu keunggulan kompetitif yang jarang dimiliki pemain sejenis.

Produk yang dihasilkan tidak terbatas pada udang beku mentah (raw) atau matang (cooked), tetapi juga mencakup produk bernilai tambah seperti ebi fry, tempura, bakso udang, dan produk-produk lainnya yang siap menembus pasar premium global.

Pertumbuhan yang Melampaui Proyeksi

Ketika ISEA melakukan penawaran umum perdana (IPO) pada Juni 2024, perusahaan menargetkan pertumbuhan penjualan sebesar 57,8 persen untuk tahun 2025, menargetkan revenue Rp508,91 miliar. Proyeksi ini sudah terlihat ambisius pada waktu itu.

Namun, kenyataan di lapangan jauh melampaui ekspektasi. Tidak hanya semester pertama mencatat pertumbuhan 113,8 persen, kuartal ketiga 2025 menunjukkan semakin kuatnya momentum. Per 30 September 2025, ISEA telah mencatat laba bersih sebesar Rp3,58 miliar—melonjak 113,09 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Penjualan terakumulasi hingga kuartal ketiga mencapai Rp362,02 miliar, dengan pertumbuhan 125,5 persen. Laba kotor naik menjadi Rp63,46 miliar, sementara laba per saham meningkat ke level Rp2,58 dari Rp1,21 tahun sebelumnya.

Angka-angka ini menunjukkan satu narasi yang jelas: ISEA bukan sekadar memanfaatkan momentum tarif, tetapi berhasil membangun mesin pertumbuhan yang berkelanjutan.

Pasar Baru, Prospek Baru

Di balik angka-angka impresif ini tersimpan strategi yang lebih dalam. Direktur Utama ISEA dengan cerdas mengarahkan perusahaan untuk tidak hanya bergantung pada satu pasar, melainkan membangun diversifikasi yang sehat.

Jepang, yang sebelumnya menjadi pasar sekunder, kini mendapat perhatian lebih serius. Negara yang terkenal dengan standar kualitas tertinggi ini membuka peluang bagi produk udang premium ISEA. China, sebagai pasar terbesar pengimpor udang dunia yang menyerap sekitar 1 juta ton per tahun, juga menjadi target ekspansi strategis. Dengan pangsa pasar yang masih relatif kecil (hanya 2 persen sebelum kebijakan tarif), Indonesia memiliki ruang pertumbuhan yang sangat besar.

Eropa, meski tradisional sebagai pasar sulit dan permintif dengan standar sustainability yang tinggi, juga dibuka sebagai peluang baru. Data menunjukkan ekspor udang Indonesia ke Eropa telah meningkat 57 persen, mencerminkan kepercayaan pasar terhadap kualitas produk Indonesia yang semakin terjaga.

More From Author

blank

Cahayasakti Investindo Sukses: Dari Furnitur hingga Menjadi Kekuatan Utama Real Estate di 2025

blank

Kinerja PT Era Media Sejahtera Tbk Melesat di Tengah Booming Iklan Digital

blank
ASA Media
ASA Media

Video Pilihan