Jakarta, INVESTOR IDN – PT Bukit Uluwatu Villa Tbk (BUVA) mencatatkan lompatan spektakuler yang jarang terjadi di lantai bursa. Dalam kuartal ketiga 2025, saham perhotelan ini melejit hingga 1.500% setelah melaporkan laba bersih Rp108,6 miliar, melebihi ekspektasi dengan melontari kerugian Rp10,8 miliar di periode sama tahun lalu. Akuisisi strategis dan pemulihan sektor pariwisata Bali menjadi katalis utama.
Performa saham BUVA sungguh mengagumkan. Per 30 Oktober 2025, harga BUVA tercatat di level Rp850 per lembar sebelum menembus rekor tertinggi sepanjang tahun. Dalam satu minggu perdagangan 13-20 November 2025 saja, saham ini melonjak 18,18% dari Rp880 menjadi Rp1.040. Momentum positif berlanjut, dengan harga mencapai Rp1.130 di level tertinggi mingguan. Aktivitas beli dari broker-broker major seperti UBS Sekuritas Indonesia dan J.P. Morgan Sekuritas Indonesia menunjukkan kepercayaan institusional yang kuat.
Fundamental kinerja keuangan menopang pergerakan saham yang memukau ini. Untuk periode sembilan bulan pertama 2025, BUVA membukukan pendapatan kosolidasi Rp288,70 miliar, naik 6,1% year-on-year dari Rp272,17 miliar. Meski pertumbuhan topline terlihat moderat, margin ekspansi yang signifikan memberikan surprise di level laba bersih. Laba bersih sembilan bulan mencapai Rp108,6 miliar, melonjak dahsyat 659,4% dibanding Rp14,25 miliar pada periode sama 2024.
Keajaiban Terjadi di Kuartal Ketiga
Ledakan laba terjadi khususnya di kuartal ketiga 2025. Dalam tiga bulan terakhir September, BUVA melaporkan laba bersih Rp71,1 miliar, melompat 175% quarter-on-quarter dari Rp25,9 miliar di kuartal kedua. Angka ini jauh melebihi laba kuartal pertama sebesar Rp11,6 miliar, mencerminkan akselerasi yang tajam di musim ketiga.
Sekalipun secara teknis pertumbuhan laba terasa bombastis karena basis rendah 2024, kontribusi signifikan berasal dari bagian laba neto entitas asosiasi senilai Rp78,34 miliar. Faktor ini mencerminkan investasi BUVA di entitas yang beroperasi dengan profitabilitas lebih baik, terutama terkait dengan properti dan manajemen aset perhotelan.
Laba bruto periode sembilan bulan tumbuh 4,5% menjadi Rp201,92 miliar dari Rp193,15 miliar. Namun, peningkatan strategis margin bruto tercermin dari kontrol yang lebih ketat terhadap beban pokok pendapatan, yang tumbuh hanya 4,5% sementara pendapatan naik 6,1%.
Kenaikan Tarif Hotel Sebagai Penyelamat Okupansi
Meskipun okupansi hotel turun ke 53,8% hingga Mei 2025 dari 56% periode sama tahun lalu, BUVA mampu menjaga pertumbuhan pendapatan melalui strategi penetapan harga yang agresif. Direktur BUVA mengungkapkan bahwa average daily rate (ADR) naik sekitar 11% sepanjang periode tersebut.
Strategi yield management ini sangat cerdas mengingat tekanan global dari ketidakpastian kebijakan proteksionisme Amerika Serikat yang mempengaruhi perjalanan wisatawan internasional. Dengan menaikkan tarif rata-rata kamar sambil mentolerasi penurunan hunian, BUVA berhasil mengoptimalkan revenue per available room (RevPAR).
Direktur Bukit Uluwatu, Hendry Utomo, menekankan bahwa manajemen mengantisipasi perbaikan kondisi di paruh kedua 2025. Seiring dengan itu, perseroan terus mengkaji potensi pengembangan fasilitas baru di sisa lahan properti yang masih kosong.
Akuisisi Bukit Permai: Strategi Konsolidasi Uluwatu
Lompatan laba quarter ini juga dipicu oleh keputusan strategis akuisisi Bukit Permai Properti (BPP). Pada Oktober 2025, BUVA mengumumkan rencana mengakuisisi 99,99% saham BPP dari anak perusahaan PT Summarecon Bali Indah dan PT Bali Indah Development milik Summarecon Agung (SMRA).
BPP menguasai lahan seluas 19,3 hektar di Pecatu, Uluwatu, Bali, berbatasan langsung dengan aset flagship BUVA yaitu Alila Villas Uluwatu. Akuisisi ini sangat strategis karena memungkinkan sinergi operasional total di kawasan premium Uluwatu yang paling menguntungkan bagi BUVA.
Untuk membiayai akuisisi senilai Rp416,23 miliar ini, BUVA melaksanakan rights issue (PMHMETD I) sebesar Rp603,98 miliar pada November 2025. PT Nusantara Utama Investama (NUI), holding company pengendali BUVA milik investor terkemuka Happy Hapsoro, memberikan jaminan penuh dengan menyatakan akan membeli seluruh saham yang tidak terserap di harga pelaksanaan Rp150 per lembar.
Dari dana rights issue ini, Rp416,23 miliar dialokasikan untuk pelunasan akuisisi BPP, Rp107,60 miliar untuk pembelian dan pengembangan lahan di kawasan Pecatu, sementara Rp76,6 miliar disertakan sebagai penyertaan modal entitas lain yang mendukung operasional.
Visi Ekspansi Multi-Destinasi
Strategi BUVA tidak hanya terfokus pada Uluwatu. Perseroan juga memiliki aset di destinasi wisata premium lainnya seperti Alila Ubud di Bali, Alila Bintan di Riau, dan Alila Tarabitan di Manado. Namun, pekerjaan pengembangan aset Alila Bintan dihentikan sementara per 30 September 2025.
Meski mengalami tantangan okupansi yang sama dengan industri perhotelan umum, BUVA terus menunjukkan kelincahan dalam beradaptasi. Manajemen berkomitmen menjalankan prinsip kehati-hatian dalam ekspansi—setiap proyek harus integral dengan konsep yang ada dan mempertimbangkan efisiensi biaya investasi untuk hasil optimal.
Desain strategi ini mencerminkan pembelajaran dari volatilitas pasar global. BUVA belum memiliki rencana membangun kemitraan internasional tambahan meskipun peluang terbuka lebar, preferensi diberikan pada penguatan aset internal dan optimalisasi operasional.
Momentum Pariwisata Bali Kembali Membaik
Perbaikan okupansi diperkirakan akan terealisasi di paruh kedua 2025 seiring dengan normalisasi kondisi global dan peningkatan kunjungan wisatawan ke Bali. Musim liburan akhir tahun (Nataru), Ramadan, dan Lebaran tradisional menjadi momentum penting bagi sektor perhotelan.
Data menunjukkan tingkat hunian hotel Bali yang mencapai 65,34% di 2023 telah melampaui level pre-pandemi (2019), menunjukkan potensi pemulihan yang solid. Dengan strategi price management yang efektif, BUVA memposisikan dirinya untuk menangkap pertumbuhan ini sambil mempertahankan margin profitabilitas.
Kepercayaan Investor Institusional Meningkat
Pergerakan saham BUVA mencerminkan perubahan sentimen investor terhadap sektor perhotelan yang mulai dipandang sebagai recovery story yang menarik. Aktivitas beli dari major brokers UBS dan JP Morgan pada Jumat, 21 November menunjukkan bahwa investor institusional melihat nilai fundamental yang kuat.
Kapitalisestrasi pasar BUVA kini mencapai level yang signifikan, dengan volume perdagangan harian yang konsisten mencapai jutaan lembar saham. Ini menandakan likuiditas yang memadai dan minat pasar yang tinggi terhadap emiten ini.
Outlook dan Tantangan ke Depan
Meski kinerja mengesankan, BUVA tetap menghadapi tantangan. Penurunan okupansi di awal tahun menunjukkan sensitivitas terhadap kondisi makroekonomi global. Tantangan regulasi dan risiko perubahan kebijakan perpajakan properti juga perlu diantisipasi manajemen.
Namun, dengan akuisisi strategis BPP, diversifikasi portfolio, dan kenaikan ADR yang solid, prospek BUVA untuk 2026 terlihat optimis. Penguatan fondasi bisnis melalui konsolidasi asset di Uluwatu dan potensi pemulihan okupansi menciptakan setup yang menguntungkan bagi investor jangka menengah.
Saham BUVA yang melonjak 1.500% dalam sebulan terakhir mencerminkan kesadaran pasar terhadap transformasi yang sedang dialami emiten perhotelan ini—dari fase konsolidasi menuju ekspansi terstruktur di kawasan wisata paling premium di Indonesia.

