Jakarta, Investor IDN – Garuda Indonesia (GIAA) kembali menjadi sorotan setelah memperoleh suntikan dana segar dari Danantara senilai Rp23,7 triliun. Langkah ini diharapkan mampu memperkuat posisi keuangan maskapai pelat merah tersebut. Namun, kenyataannya harga saham GIAA masih belum menunjukkan pemulihan yang signifikan. Kondisi ini menimbulkan pertanyaan besar di kalangan investor dan publik: mengapa saham Garuda tetap tertekan?
Salah satu faktor utama ialah mekanisme private placement yang dilakukan dengan harga Rp75 per saham, jauh di bawah harga pasar yang saat itu berada di kisaran Rp106. Hal ini menimbulkan sentimen negatif karena terjadi dilusi kepemilikan, sehingga investor ritel merasa dirugikan. Bukannya mendorong optimisme, langkah ini justru menekan harga saham di pasar.
Selain itu, dana yang diperoleh tidak langsung meningkatkan profitabilitas. Sebagian besar digunakan untuk pemeliharaan armada dan restrukturisasi utang. Hingga kini, masih ada 39 pesawat Garuda dan Citilink yang belum beroperasi, sehingga kapasitas operasional belum optimal. Dengan kondisi tersebut, pendapatan perusahaan belum dapat terdongkrak secara signifikan.
Beban utang juga masih menjadi tantangan besar. Meskipun restrukturisasi terus dilakukan, investor melihat risiko finansial tetap tinggi. Pada tahun 2025, Garuda Indonesia masih menghadapi tekanan untuk menunjukkan peningkatan kinerja operasional yang nyata. Proses pemulihan keuangan ini membutuhkan waktu panjang dan konsistensi manajemen dalam menjalankan strategi bisnis. Ketidakpastian arah bisnis, termasuk rencana akuisisi pesawat baru dan perencanaan investasi untuk tahun-tahun mendatang, membuat investor memilih sikap menunggu bukti konkret (wait-and-see).
Faktor eksternal turut memperburuk keadaan. Industri penerbangan masih menghadapi tekanan biaya avtur, fluktuasi nilai tukar rupiah, serta persaingan ketat dengan maskapai penerbangan lainnya. Semua ini menjadi tantangan tambahan yang menahan laju pemulihan Garuda Indonesia, terutama mengingat proyeksi pertumbuhan ekonomi global dan permintaan perjalanan penerbangan pada tahun 2025 masih penuh ketidakpastian.
Dengan berbagai faktor tersebut, wajar apabila saham GIAA masih tertekan meskipun sudah mendapat suntikan dana besar. Investor menanti bukti nyata berupa peningkatan kinerja operasional dan keuangan sebelum memberikan kepercayaan penuh kembali. Strategi komunikasi yang lebih transparan dari manajemen Garuda Indonesia terhadap investor mengenai rencana pemulihan di tahun 2025 dan seterusnya menjadi kunci untuk memulihkan sentimen pasar terhadap saham ini.

