PT Folago Global Nusantara (IRSX) resmi mengganti identitas seiring masuknya PT Matra Tri Abadi sebagai pemegang saham mayoritas. Keputusan strategis ini menandai transformasi fundamental menuju bisnis digital agency dan entertainment. Apa arah sebenarnya?
Perubahan pengendali saham di sebuah perusahaan publik bak pergantian kapten di tengah berlayar. Semuanya berpotensi berubah—dari strategi, manajemen, hingga jenis bisnis yang dijalankan. Itulah yang terjadi pada PT Folago Global Nusantara Tbk (IRSX), yang dahulu bernama PT Aviana Sinar Abadi, setelah PT Matra Tri Abadi (MTA) secara resmi menjadi pemegang saham pengendalinya.
Transformasi ini bukan sekadar perubahan nama di atas kop surat. Dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada 25 September 2025, perseroan mengesahkan serangkaian keputusan strategis yang mengindikasikan pivot bisnis yang serius menuju dunia digital agency dan entertainment. Pertanyaan investor kini fokus pada satu hal: apakah langkah ini akan membawa IRSX menuju pertumbuhan yang berkelanjutan, atau hanya sekadar reorganisasi kosmetik?
Masuk ke MCN: Pemegang Saham Baru Tunjukkan Tujuan Jelas
MTA membeli saham IRSX senilai Rp 32 per lembar dalam periode tender wajib yang berlangsung September hingga Oktober 2025. Meskipun investor publik tidak ada yang melepas sahamnya saat penawaran tersebut, MTA tetap memiliki kontrol majoritas yang memadai untuk mengarahkan perusahaan.
Sinyal paling jelas mengenai arah strategis IRSX terletak pada fokus bisnis yang dinyatakan secara resmi: Digital Agency dan Entertainment. Tidak ada ambiguitas di sini. Dalam konteks IRSX, fokus ini mencakup Multi Channel Networking (MCN), live streaming, produksi konten, manajemen kreator, dan social commerce.
Ini bukanlah sesuatu yang asing bagi IRSX. Sebelum perubahan pengendali, perusahaan sudah memiliki akar dalam bisnis creator economy dan social commerce. Artinya, MTA tidak membawa IRSX ke dimensi bisnis yang benar-benar baru—melainkan memperkuat, memperluas, dan mentransformasi apa yang sudah ada menjadi sesuatu yang lebih besar.
Dari Folago MCN hingga Folago TikTok Go: Ekosistem Kreator yang Terstruktur
Ketika Direktur Utama Folago Global Nusantara Subioto Jingga berbicara pada September 2025, dia mengungkap gambaran konkret tentang arah bisnis. Saat ini, pendapatan utama IRSX berasal dari dua sumber: Folago MCN dan live streaming TikTok.
MCN, singkatan dari Multi Channel Networking, adalah model bisnis yang mengelola ribuan content creator di berbagai platform media sosial. Peran IRSX dalam ekosistem ini adalah memberikan dukungan komprehensif kepada kreator—mulai dari produksi konten, strategi viral, standarisasi live commerce, hingga talent management.
Folago TikTok Go mengambil pendekatan yang berbeda. Platform ini menawarkan model monetisasi kreator dengan mengintegrasikan voucher dari F&B, hotel, dan wisata langsung ke dalam konten yang mereka buat. Hasilnya? Kreator mendapat penghasilan, brand mendapat exposure, dan audience mendapat value—semuanya dalam satu ekosistem yang terkoneksi.
Subioto menargetkan pendapatan IRSX mencapai Rp 300 miliar pada akhir 2025 dengan margin laba bersih sekitar 25%. Angka ini bukan omong kosong—ini adalah target yang spesifik dan terukur, menunjukkan bahwa pengendali baru memiliki rencana operasional yang konkret, bukan hanya visi abstrak.
Akuisisi Perusahaan Baim Wong: Sinyal Ekspansi Social Commerce
Salah satu aksi konkret yang membuktikan komitmen MTA terhadap pivot ini adalah akuisisi IRSX atas 80% saham PT Jaya Gemilang Wong, yang kini berganti nama menjadi PT Folago Karya Indonesia. Transaksi senilai Rp 400 juta ini mungkin terlihat kecil dalam angka rupiah, tapi signifikansinya besar.
PT Jaya Gemilang Wong sebelumnya dimiliki oleh artis dan entrepreneur Baim Wong, yang memiliki pengaruh besar di ekosistem creator economy Indonesia. Dengan mengakuisisi perusahaan ini, IRSX tidak hanya membeli aset, tetapi juga menggabungkan network, kredibilitas, dan pengalaman dalam mengelola creator economics di skala yang lebih besar.
Ini adalah satu dari sekian banyak langkah ekspansi yang akan datang. Ketika perusahaan melakukan akuisisi seperti ini, biasanya itu adalah bagian dari strategi lebih besar untuk membangun ekosistem terintegrasi. IRSX, melalui Folago, sedang memposisikan diri sebagai “super-platform” yang menghubungkan kreator, brand, dan audience dalam satu ekosistem yang powerful.
Mengapa Pivot Ini Masuk Akal? Tiga Tren Pasar yang Mendukung
Untuk memahami mengapa MTA memilih arah ini, investor perlu melihat tiga tren pasar besar yang sedang berlangsung di Indonesia.
Pertama, belanja iklan digital Indonesia tumbuh dua digit setiap tahunnya. E-commerce, social commerce, dan video marketing mendorong pertumbuhan ini. Di antara semua kanal periklanan, digital adalah yang tercepat pertumbuhannya. Ini berarti permintaan terhadap jasa digital agency—perusahaan yang membantu brand memasarkan produk mereka secara digital—akan terus meningkat.
Kedua, Indonesia adalah salah satu pasar entertainment dan media dengan pertumbuhan tercepat di dunia. Pertumbuhan terbesar datang dari streaming, live entertainment, konten digital pendek, dan creator economy. Dengan populasi usia muda 53,81%, Indonesia memiliki semua elemen yang dibutuhkan untuk menjadi pusat creator economy di Asia Tenggara.
Ketiga—dan ini adalah yang paling krusial—lebih dari 70% keputusan pembelian dipengaruhi oleh rekomendasi kreator digital. Artinya, memiliki kontrol atas ribuan kreator adalah memiliki leverage yang luar biasa dalam ekosistem pemasaran modern. IRSX, melalui Folago, sudah memiliki ribuan influencer dan afiliator di bawah naungannya, serta sekitar 40-60 artis. Aset ini tidak bisa dibeli dengan mudah—ini adalah network yang dibangun bertahun-tahun.
Dengan tiga tren ini konvergen, pivot IRSX menuju digital agency dan entertainment bukan hanya masuk akal—ini adalah keputusan yang strategic dan tepat waktu.
Skenario Pivot yang Paling Mungkin: Holding Digital Terintegrasi
Berdasarkan pernyataan resmi IRSX dan data faktual yang ada, ada satu skenario yang paling kuat kemungkinannya terjadi.
IRSX akan menjadi holding digital yang menaungi tiga pilar bisnis: digital marketing (membantu brand beriklan secara digital), manajemen kreator (mengelola ribuan content creator), dan produksi konten (menciptakan konten berkualitas untuk berbagai platform). Di atas semuanya, ada live entertainment dan short movie production—dua segmen yang sedang booming di Indonesia.
Model ini membuat sense karena asset-light. IRSX tidak perlu membangun infrastruktur fisik yang besar. Bisnis digital agency dan entertainment bisa dijalankan dengan tim yang relatif lean, fokus pada people dan ideas, bukan pada aset fisik. Ini berbeda dengan bisnis tradisional yang memerlukan pabrik besar atau ritel berjejaring.
Keunggulan model ini adalah sinergi. Ketika IRSX memiliki kreator, mereka bisa langsung menawarkan jasa marketing ke brand dengan jaminan exposure yang jelas. Ketika brand ingin membuat content, mereka bisa langsung memproduksinya melalui divisi production house IRSX. Setiap komponen saling mendukung dan menciptakan nilai tambah.
Indikator yang Perlu Diperhatikan: Jangan Lewatkan Update Corporate Action
Untuk investor yang ingin memantau apakah IRSX benar-benar committed pada pivot ini atau sekadar pamer, ada beberapa indikator penting yang harus diperhatikan.
Pertama, Rights Issue yang sudah disetujui. RUPSLB menyetujui penambahan modal (PMHMETD) sebanyak 12,39 miliar saham baru. Dana dari rights issue ini akan digunakan untuk capex (belanja modal) dan opex (biaya operasional) guna mendukung ekspansi. Jika IRSX benar-benar serius, dana ini akan dialokasikan ke produksi konten, akuisisi creator network baru, atau pengembangan platform teknologi—bukan ke hal-hal sekunder.
Kedua, perubahan KBLI (Klasifikasi Bisnis Lapangan Usaha). Jika IRSX berubah dari klasifikasi bisnis “teknologi” tradisional menjadi “media dan entertainment,” ini adalah sinyal konkret bahwa pivot bukan sekadar rebranding.
Ketiga, inbreng aset. Jika ada aset dari group MTA atau pihak berelasi yang “dimasukkan” ke dalam IRSX, ini menunjukkan bahwa pengendali baru sedang membangun ekosistem bisnis di dalam IRSX. Perhatikan juga setiap akuisisi tambahan—ini akan menunjukkan arah dan skala ekspansi.
Keempat, perubahan nama atau identitas brand lebih lanjut. Rebranding dari “Aviana” menjadi “Folago” sudah dilakukan. Jika ada perubahan brand lagi di masa depan, ini bisa menandakan strategi positioning yang semakin jelas.
Investor yang mendalam akan memantau setiap corporate action ini dengan cermat. Ini adalah “breadcrumb” yang akan menunjukkan apakah IRSX sedang membangun bisnis yang genuine atau sekadar bermain-main dengan struktur korporat.
Potensi dan Risiko: Satu Sisi Cerah, Satu Sisi Gelap
Potensi IRSX jika pivot ini berjalan dengan baik sangat besar. Industri creator economy dan digital marketing di Indonesia baru saja memasuki masa pertumbuhan eksponensial. Early mover yang memiliki network creator yang kuat bisa menguasai pasar dengan cepat.
IRSX memiliki keunggulan: mereka sudah memiliki ribuan kreator, sudah punya track record dalam platform seperti MCN dan live streaming, dan sekarang mendapat dukungan dari pemegang saham baru yang memiliki sumber daya untuk ekspansi.
Namun risikonya juga nyata. Industri creator economy sangat kompetitif. Platform global seperti TikTok, Instagram, dan YouTube memiliki reach dan technology yang jauh lebih superior. IRSX harus menemukan niche yang unik—tidak sekadar meniru apa yang dilakukan pemain global.
Selain itu, success bergantung pada execution. Akuisisi Baim Wong baru saja terjadi. Integrasi dua organisasi yang berbeda kultur bisa menjadi batu loncatan atau hambatan besar. Manajemen baru IRSX perlu menunjukkan competence dalam mengeksekusi strategi ini.
Kesimpulan: Pasar Menunggu Bukti Nyata
IRSX sedang berada di fase yang paling krusial dalam sejarah perusahaannya. Pivot dari teknologi tradisional menuju digital agency dan entertainment adalah keputusan yang bold dan berisiko. Namun, dari sudut pandang strategic dan market opportunity, keputusan ini masuk akal.
Pemegang saham mayoritas baru menunjukkan seriousness mereka dengan melakukan rebranding, merombak manajemen, dan melakukan akuisisi untuk memperkuat ekosistem. Target pendapatan Rp 300 miliar dengan margin 25% juga menunjukkan bahwa ini bukan omong kosong.
Namun, pada akhirnya, investor tidak akan percaya pada kata-kata. Mereka akan percaya pada hasil. IRSX harus menunjukkan bahwa target pendapatan bisa tercapai, bahwa integrasi akuisisi berjalan lancar, dan bahwa ekosistem Folago yang dibangun bisa menciptakan defensibility dan competitive advantage.
Jika IRSX berhasil, saham ini bisa menjadi salah satu growth story yang menarik di pasar modal Indonesia. Jika gagal, ini bisa menjadi sekadar reorganisasi kosmetik yang tidak mengubah fundamental bisnis.
Investor cerdas akan terus memantau setiap update dari IRSX—bukan hanya angka finansial, tetapi juga corporate action, perubahan strategis, dan eksekusi operasional. Pertanyaannya sederhana: apakah IRSX bisa mentransformasi peluang ini menjadi growth yang nyata? Jawabannya akan terlihat dalam laporan keuangan, aksi corporate, dan performa bisnis di kuartal-kuartal mendatang.

