Jakarta, Investor IDN — Sosok investor kawakan Lo Kheng Hong kembali mengguncang dinamika pasar modal Indonesia melalui pergerakan portofolionya yang terpantau aktif di Bursa Efek Indonesia (BEI). Berdasarkan data terbaru yang dirilis oleh PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), investor yang kerap dijuluki “Warren Buffett Indonesia” ini terlihat mempertebal kepemilikannya di sejumlah emiten fundamental, menegaskan strategi value investing yang tetap konsisten di tengah fluktuasi ekonomi 2026.
Salah satu sorotan utama tertuju pada emiten manufaktur ban, PT Gajah Tunggal Tbk (GJTL). Pria berusia 67 tahun tersebut terpantau melakukan akumulasi pembelian secara bertahap dalam beberapa hari terakhir. Data KSEI menunjukkan porsi kepemilikan Lo Kheng Hong di GJTL kini merangkak naik menjadi 6,02 persen dari posisi sebelumnya yang berada di level 5,98 persen. Transaksi yang melibatkan volume antara satu hingga dua juta lembar saham ini terjadi tepat sebelum pelaksanaan Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) 2025, sebuah momentum yang biasanya menjadi indikator bagi investor untuk memantau arah kebijakan dividen dan ekspansi korporasi ke depan.
Langkah strategis sang investor tidak hanya berhenti di sektor manufaktur. Jejak investasi Lo Kheng Hong juga terbentang lebar di sektor jasa keuangan dan energi. Hingga akhir Februari 2026, ia tercatat menggenggam sekitar 5,62 persen saham di PT ABM Investama Tbk (ABMM). Kepemilikan ini menunjukkan kepercayaan jangka panjang pada perusahaan holding yang memiliki eksposur kuat di sektor jasa keuangan dan investasi. Selain itu, nama Lo Kheng Hong masih bertengger sebagai pemegang saham signifikan di PT Clipan Finance Indonesia Tbk (CFIN). Kehadirannya di CFIN mengonfirmasi bahwa sektor pembiayaan dan leasing masih menjadi salah satu pilar utama dalam kalkulasi investasinya tahun ini.
Ekspansi portofolio “Si Penabung Saham” ini juga merambah ke sektor infrastruktur dan media yang memiliki aset underlying kuat. Di industri telekomunikasi dan broadband, Lo Kheng Hong mempertahankan posisi sebesar 6,44 persen di PT Global Mediacom Tbk (BMTR). Keputusan ini sejalan dengan meningkatnya nilai strategis jaringan serat optik dan layanan internet di kota-kota besar Indonesia. Sementara itu, pada sektor pendukung pertambangan, keterlibatan di PT Petrosea Tbk (PTRO) mempertegas pandangan optimistisnya terhadap industri batu bara. Lo Kheng Hong sebelumnya secara terbuka menyebutkan bahwa sektor ini tetap menjadi primadona di era pemulihan ekonomi global, terutama bagi perusahaan yang memiliki kontrak infrastruktur pelabuhan dan jasa pertambangan terintegrasi.
Diversifikasi aset sang investor kian lengkap dengan kehadirannya di sektor perkebunan dan properti. Di industri kelapa sawit, ia menempatkan dana pada PT Salim Ivomas Pratama Tbk (SIMP). Kepemilikan di atas 1 persen pada emiten CPO ini mencerminkan ekspektasi terhadap stabilitas permintaan komoditas dari pasar global, khususnya China dan India. Di sisi lain, pada sektor properti, PT Intiland Development Tbk (DILD) menjadi salah satu aset dengan bobot terbesar dalam portofolionya dengan kepemilikan mencapai 6,71 persen. Fokus pada DILD didorong oleh prospek pemulihan daya beli masyarakat terhadap hunian di wilayah Jabodetabek serta tren penyaluran KPR yang kembali menggeliat.
Munculnya nama Lo Kheng Hong dalam daftar pemegang saham di atas 5 persen maupun laporan kepemilikan di atas 1 persen sering kali menjadi stimulan bagi investor ritel. Pola investasinya yang mengandalkan analisis nilai intrinsik dan kemampuan perusahaan menghasilkan arus kas jangka panjang menjadikannya sebagai leading indicator di pasar. Bagi pelaku pasar, pergerakan di saham GJTL, CFIN, ABMM, BMTR, DILD, PTRO, hingga SIMP bukan sekadar mengikuti tren, melainkan sebuah sinyal mengenai adanya aset yang dinilai masih salah harga (undervalued) dibandingkan dengan potensi pertumbuhan bisnisnya di masa depan.
