Jakarta, Investor-idn.com – PT Rukun Raharja Tbk (RAJA) mulai memasuki perdagangan dengan nilai nominal baru setelah pelaksanaan stock split 1:5. Bursa Efek Indonesia menetapkan harga teoretis RAJA sebesar Rp920 per saham sebagai acuan di pasar reguler dan pasar negosiasi pada Kamis, 16 Juli 2026.
Harga teoretis itu berasal dari harga akhir cum RAJA di pasar reguler dengan nilai nominal lama Rp25 per saham pada 15 Juli 2026, yakni Rp4.600. Setelah disesuaikan dengan rasio pemecahan saham 1:5, harga acuannya menjadi Rp920 per saham.
Stock split RAJA mengubah nilai nominal saham dari Rp25 menjadi Rp5 per saham. Jumlah saham perseroan ikut meningkat dari 4.227.082.500 saham menjadi 21.135.412.500 saham, tanpa mengubah persentase kepemilikan pemegang saham karena aksi ini bersifat pemecahan nilai nominal.
Bagi investor, angka Rp920 menjadi penting karena digunakan sebagai dasar tawar-menawar saham RAJA di Jakarta Automated Trading System (JATS) setelah penyesuaian. BEI juga menetapkan penyesuaian harga dasar untuk perhitungan indeks harga saham individual RAJA berdasarkan formula Rp920 dibanding Rp4.600.
Jadwal pelaksanaan stock split RAJA menempatkan 15 Juli 2026 sebagai akhir perdagangan saham dengan nilai nominal lama di seluruh pasar. Perdagangan dengan nilai nominal baru dimulai 16 Juli 2026 di pasar reguler dan pasar negosiasi, sementara pasar tunai menyusul pada 20 Juli 2026.
Secara mekanis, stock split membuat harga per lembar saham terlihat lebih rendah dan jumlah saham beredar lebih besar. Namun, aksi ini tidak otomatis menambah nilai perusahaan. Nilai investasi pemegang saham sebelum dan sesudah split pada dasarnya mengikuti rasio pemecahan yang sama.
Karena itu, perhatian investor sebaiknya tidak berhenti pada perubahan harga nominal. Setelah perdagangan dengan nominal baru berjalan, faktor yang perlu dipantau adalah likuiditas transaksi, kedalaman antrean bid-offer, serta respons pasar terhadap prospek bisnis RAJA di sektor energi.
Pelaksanaan stock split juga membuat perbandingan harga historis RAJA perlu dibaca dengan penyesuaian. Harga sebelum split tidak bisa dibandingkan begitu saja dengan harga setelah split tanpa memperhitungkan rasio 1:5.

