Jakarta, INVESTOR IDN – Selama lebih dari dua dekade saya berkecimpung di dunia CSR, saya sering menemukan pertanyaan dan bahkan perdebatan tentang apa sebenarnya perbedaan antara CSR (Corporate Social Responsibility) dan CSV (Creating Shared Value). Banyak yang masih beranggapan bahwa CSR tidak boleh memberikan keuntungan bagi perusahaan, bahkan ada yang menilai jika perusahaan mendapatkan benefit, maka itu bukan CSR. Saya ingin meluruskan pemahaman ini berdasarkan pengalaman saya di lapangan dan perjalanan saya membangun ekosistem CSR dan CSV di Indonesia.
Bagi saya, CSR yang dijalankan dengan benar justru memberikan banyak benefit bagi perusahaan. Benefit ini bukan semata-mata dalam bentuk profit finansial, melainkan harmoni dengan masyarakat sekitar, ketentraman lingkungan, hingga berkurangnya risiko sosial dan lingkungan. Ketika perusahaan membangun hubungan baik dengan komunitas, operasional menjadi lebih lancar, tidak ada demo, dan perusahaan bisa fokus pada produktivitas. Inilah esensi CSR yang sesungguhnya: menciptakan nilai tambah bagi masyarakat sekaligus memastikan keberlanjutan bisnis.
Namun, seiring perkembangan waktu, saya melihat konsep CSR berkembang menjadi sesuatu yang lebih strategis, yaitu Creating Shared Value (CSV). CSV bukan hanya tentang memberi, tapi bagaimana perusahaan mengintegrasikan dimensi sosial ke dalam inti kegiatan ekonominya. Contohnya, saat perusahaan kopi membina petani lokal untuk meningkatkan kualitas hasil panen, petani mendapatkan ilmu dan harga jual yang lebih baik, sementara perusahaan memperoleh bahan baku berkualitas yang mendukung ekspansi bisnis. Ini adalah win-win solution, di mana masyarakat dan perusahaan sama-sama tumbuh.
Saya terinspirasi oleh konsep CSV dari Prof. Michael Porter (Harvard Business School), hingga akhirnya mendirikan Indonesia Shared Value Institute (ISVI). Melalui ISVI, saya berupaya mendorong perusahaan-perusahaan Indonesia agar tidak hanya menjalankan program sosial sebagai kewajiban, tetapi juga sebagai strategi inti yang menciptakan nilai bersama bagi seluruh pemangku kepentingan—masyarakat, pemerintah, dan tentu saja perusahaan itu sendiri.
Pengalaman saya membuktikan, ketika masyarakat sekitar diberdayakan secara ekonomi, daya beli mereka meningkat, dan pada akhirnya penjualan perusahaan pun ikut naik. Pemerintah juga diuntungkan lewat peningkatan pajak dan pertumbuhan ekonomi lokal. Inilah mengapa saya percaya CSV adalah “level baru” dari CSR—bukan hanya berdampak pada masyarakat, tapi juga memperkuat keberlanjutan dan daya saing bisnis di era modern.
Saya mengajak rekan-rekan praktisi dan pelaku bisnis untuk mulai melihat CSR dan CSV sebagai satu kesatuan strategi jangka panjang. Dengan kolaborasi, inovasi, dan keberanian untuk bertransformasi, kita bisa menciptakan perubahan nyata yang dirasakan hingga ke akar rumput. Mari bersama-sama membangun masa depan bisnis Indonesia yang lebih inklusif dan berkelanjutan.
Videonya ada disini :

