20 Saham Unggulan 2026

Ambruk! IHSG Februari 2026 Turun di Tengah Janji Rebound Pemerintah

Senin pagi yang dinanti dengan penuh harap berubah menjadi mimpi buruk bagi para investor pasar modal Indonesia. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) justru ambruk hingga 5,19 persen pada perdagangan 2 Februari 2026, bertolak belakang dengan optimisme yang digembar-gemborkan pemerintah dan CEO Danantara hanya sehari sebelumnya.

IHSG ditutup di level 7.897,45 pada sesi pertama, merosot 442,45 poin dari penutupan Jumat lalu. Ini menjadi level terendah sejak pertengahan September 2025, atau sekitar 4,5 bulan terakhir. Sepanjang perdagangan, tekanan jual terus menghantam bursa sejak pembukaan hingga indeks sempat menyentuh level terendah di 7.858.

Optimisme yang Meleset Jauh

Ironinya terasa begitu kuat. CEO Danantara Indonesia Rosan Roeslani pada Minggu (1/2) sore dengan percaya diri memproyeksikan IHSG akan mengalami rebound pada perdagangan Senin. “Insya Allah, hari Senin dan seterusnya IHSG akan rebound dan berjalan dengan baik,” ujar Rosan dengan penuh keyakinan setelah menggelar dialog dengan pelaku pasar modal.

Keyakinan Rosan didasarkan pada respons positif investor asing terhadap langkah reformasi pasar modal Indonesia yang tengah digulirkan. Ia mengaku telah berkomunikasi intensif dengan investor global dalam beberapa hari terakhir dan mayoritas menunjukkan pemahaman terhadap kebijakan yang ditempuh pemerintah bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI).

Optimisme serupa juga dilontarkan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. Sang bendahara negara meminta investor tetap tenang dan yakin fundamental ekonomi Indonesia tetap solid dengan target pertumbuhan ekonomi mendekati 6 persen. Bahkan Purbaya dengan gagah berani menargetkan IHSG bisa menembus level 10.000 pada akhir 2026. “To the moon, jangan takut, fondasi kita bagus,” katanya.

Realitas Pahit Pasar Modal

Kenyataan berkata lain. Sejak pembukaan perdagangan pukul 09.00 WIB, IHSG langsung terperosok. Indeks dibuka di level 8.306,16, turun 0,28 persen. Namun hanya dalam 12 menit, IHSG melanjutkan pelemahan dan kehilangan 287 poin atau ambruk hingga 3,44 persen ke level 8.043,11.

Tekanan jual terus menggulung. Pada pukul 09.17 WIB, IHSG sudah anjlok 5 persen ke level 7.913. Hingga penutupan sesi pertama, sebanyak 715 saham melemah, hanya 65 saham yang menguat, sisanya stagnan. Nilai transaksi mencapai Rp18,90 triliun dengan volume 33,66 miliar saham yang diperdagangkan.

Seluruh indeks sektoral ikut terpuruk. Indeks LQ45 turun 3,98 persen, IDX30 merosot 2,68 persen, Jakarta Islamic Index (JII) anjlok 7,64 persen, dan ISSI terkoreksi 6,79 persen. Sektor energi turun 7,87 persen, bahan baku ambruk 11,19 persen, sementara sektor siklikal tergerus 7,92 persen.

Akar Masalah yang Terabaikan

Penurunan drastis IHSG bukan tanpa sebab. Pasar masih mencerna peringatan keras Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang membekukan rebalancing indeks saham Indonesia dan mengancam akan menurunkan status pasar modal Indonesia dari emerging market menjadi frontier market jika perbaikan transparansi tidak dilakukan hingga Mei 2026.

Tekanan bertambah dengan aksi downgrade beruntun dari lembaga investasi global. Goldman Sachs menurunkan peringkat saham Indonesia menjadi underweight, memperkirakan potensi arus keluar dana pasif mencapai USD7,8 miliar jika Indonesia benar-benar diturunkan ke kategori frontier market. UBS dan Nomura menyusul dengan menurunkan peringkat dari overweight menjadi netral.

Data Bank Indonesia menunjukkan investor asing mencatatkan capital outflow sebesar Rp12,55 triliun pada pekan terakhir Januari 2026, dengan Rp12,40 triliun keluar dari pasar saham. Pada perdagangan sepekan lalu saja, asing melakukan aksi net sell jumbo mencapai Rp11,05 triliun.

Situasi diperparah dengan pengunduran diri massal para petinggi regulator pasar modal. Direktur Utama BEI Iman Rachman mengundurkan diri pada Jumat (30/1) pagi sebagai bentuk tanggung jawab atas gejolak pasar. Tak lama kemudian, Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK Inarno Djajadi, Deputi Komisioner I.B. Aditya Jayaantara, dan Wakil Ketua Dewan Komisioner OJK Mirza Adityaswara turut menyusul mundur.

Optimisme Versus Realitas

Kontras antara janji dan kenyataan ini menimbulkan pertanyaan serius tentang pemahaman pemerintah terhadap dinamika pasar modal. Ketika regulator dan pelaku pasar masih mencari solusi atas masalah fundamental transparansi kepemilikan saham dan free float, pernyataan optimistis tanpa dasar yang kuat justru berpotensi mengikis kredibilitas lebih jauh.

Pasar modal tidak bergerak berdasarkan harapan dan janji semata. Investor, terutama institusi global, membutuhkan kepastian regulasi, transparansi data, dan tata kelola yang kredibel. Tanpa perbaikan mendasar pada aspek-aspek tersebut, optimisme pemerintah hanya akan menjadi seruan kosong yang bertabrakan dengan kenyataan pahit di lantai bursa.

Kini, para pelaku pasar menanti langkah konkret perbaikan sistem, bukan sekadar retorika optimisme. Sebab pasar telah berbicara dengan bahasa yang paling jujur: angka merah yang menyala di layar monitor perdagangan, membuktikan bahwa kepercayaan tidak bisa dibeli dengan janji manis, melainkan harus dibangun dengan reformasi nyata dan konsisten.

More From Author

Boutique Stock

MSCI Bikin Gejolak, Boutique Stock Dilirik Investor Asing

blank

Bursa Disandera Broker? Danantara Mengintip, OJK Kejar Demutualisasi BEI

blank
ASA Media
ASA Media

Video Pilihan