PT IndoInternet Tbk (kode saham: EDGE), emiten data center, secara resmi memutuskan untuk delisting sukarela dari Bursa Efek Indonesia (BEI) setelah lima tahun tercatat di bursa. Keputusan ini diambil karena perusahaan ingin mengubah statusnya dari perusahaan terbuka menjadi perusahaan tertutup (go private). Langkah ini dilakukan di tengah rencana BEI untuk menaikkan standar free float minimum emiten dari 7,5% menjadi 15%, sementara porsi free float EDGE hanya 7,9%.
Manajemen EDGE menyatakan bahwa keputusan ini merupakan langkah strategis untuk fleksibilitas operasional lebih besar tanpa beban regulasi perusahaan terbuka. Direktur Utama Andrew Joseph Rigoli menjelaskan bahwa EDGE, sebagai bagian dari grup Digital Edge, ingin fokus pada pengembangan infrastruktur digital seperti data center dan serat optik di tengah persaingan ketat. Perubahan status ini juga memungkinkan integrasi antarperusahaan lebih mulus tanpa keterbatasan pelaporan publik.
Proses delisting dimulai dengan permohonan suspensi perdagangan yang diajukan pada 9 Februari 2026. BEI langsung merespons dengan penghentian sementara perdagangan saham EDGE mulai sesi pra-pembukaan 10 Februari 2026, sesuai surat nomor Peng-SPT-00002/BEI.PP2/02-2026. Saat itu, saham EDGE terakhir ditutup di level Rp 4.790.
Untuk menyelesaikan go private dan delisting, EDGE menunggu persetujuan RUPSLB Independen pada 22 April 2026. Agenda RUPS mencakup pembatalan pencatatan saham, perubahan status perusahaan, serta kewenangan direksi untuk melaksanakan proses tersebut. Setelah delisting, EDGE akan fokus pada ekspansi data center dan layanan fiber optic, memanfaatkan pertumbuhan sektor digital Indonesia yang pesat meski kompetitif.
EDGE IPO pada 8 Februari 2021 dan kini “angkat kaki” setelah lima tahun, didominasi pemegang saham mayoritas seperti Tiga Beruang Kalifornia Pte. Ltd. (awalnya 99,69%). Keputusan ini sejalan dengan POJK 3/2021 tentang delisting sukarela.
Bagi pemegang saham minoritas, delisting berarti hilangnya likuiditas karena saham tidak lagi diperdagangkan di BEI. Namun, proses go private biasanya melibatkan penawaran buyout untuk memastikan fair value. Investor perlu pantau keterbukaan informasi selanjutnya dari EDGE dan BEI.
Di tengah tren data center yang booming, langkah EDGE menunjukkan bahwa emiten dengan free float rendah lebih memilih go private daripada menambah likuiditas paksa. Ini jadi pelajaran bagi emiten lain di sektor teknologi.
Dengan keputusan ini, EDGE menutup babaknya di BEI dan siap beroperasi sebagai perusahaan privat, fokus ekspansi infrastruktur digital tanpa tekanan pasar publik. Pantau update RUPS dan proses delisting untuk perkembangan terbaru.
