Jakarta, Investor IDN –PT Surya Semesta Internusa Tbk (SSIA) terus menggenjot pengembangan Subang Smartpolitan, kawasan industri terintegrasi di Subang, Jawa Barat yang dinilai sebagai ‘harta karun’ perseroan. Proyek strategis ini menjadi andalan utama SSIA di tengah tekanan kinerja keuangan yang mencatatkan rugi bersih Rp89,4 miliar pada tahun buku 2025 akibat penurunan penjualan lahan industri.
Subang Smartpolitan merupakan kawasan industri seluas ribuan hektar yang terletak di Koridor Utara Jawa Barat, sekitar 2 jam dari Jakarta. Kawasan ini menawarkan akses langsung ke tol Trans-Jawa dan dekat dengan Pelabuhan Patimban yang sedang dikembangkan. SSIA telah mengantongi izin operasional dan terus melakukan pembangunan infrastruktur dasar seperti jalan, drainase, dan utilitas untuk menarik minat investor asing dan domestik.
Perseroan yang masuk dalam portofolio Grup Djarum ini memiliki land bank yang besar di kawasan tersebut. Selain Grup Djarum sebagai pengendali, struktur pemegang saham SSIA juga menarik perhatian pasar karena melibatkan sejumlah nama besar seperti Prajogo Pangestu melalui PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) dan petinggi PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO). Kehadiran para konglomerat ini memperkuat prospek pengembangan Subang Smartpolitan ke depan.
PT Surya Semesta Internusa Tbk (SSIA) berdiri sejak 1971 dan tercatat di Bursa Efek Indonesia sejak 1997. Perusahaan bergerak di bidang properti, konstruksi, dan kawasan industri dengan portfolio yang mencakup Subang Smartpolitan, hotel, serta jasa konstruksi. Kapitalisasi pasar SSIA saat ini sekitar Rp2,5 triliun dengan harga saham di level Rp600-700 per lembar.
Ke depan, kesuksesan Subang Smartpolitan menjadi kunci pertumbuhan SSIA. Dengan momentum relokasi industri ke luar Jakarta dan pengembangan Pelabuhan Patimban, kawasan industri Subang diproyeksikan akan semakin diminati. Manajemen optimistis target penjualan lahan pada 2026 akan membaik seiring dengan meningkatkan minat investasi di sektor manufaktur.

