Jakarta, Investor IDN – Anggota dewan komisaris PYFA mengundurkan diri di saat saham emiten farmasi ini ambrol 41% dari level tertinggi Rp412 pada 7 Mei ke Rp242 hari ini, di tengah persiapan rights issue bulan depan.
Pengunduran diri ini diumumkan lewat keterbukaan informasi BEI, Jumat (22/5). Belum ada nama pengganti yang disampaikan ke publik. Makanya, pelaku pasar menunggu langkah selanjutnya dari emiten yang berdiri sejak 1976 ini.
Buat investor yang kebeli di Rp412, posisinya jelas tidak nyaman. Saham PYFA sempat meroket 100% dalam tiga pekan — dari Rp200-an ke Rp412 — lalu berbalik arah tajam dalam dua pekan terakhir. Volume perdagangan di puncak mencapai 299,9 juta lembar, euforia yang kini berubah jadi tekanan jual.
Di sisi fundamental, PYFA fokus di manufaktur farmasi dan perawatan kulit. Rights issue yang dijadwalkan Juni jadi katalis utama yang bikin harga saham melesat. Tapi mundurnya komisaris di tengah jalan bikin pasar bertanya-tanya soal arah manajemen ke depan.
Kalau lihat data, momentum rights issue biasanya bikin harga tertekan karena potensi dilusi. Ditambah komisaris mundur, sentimen jadi double negatif dalam waktu singkat. Tapi dari sisi lain, ini bisa jadi momen restrukturisasi jajaran dewan jelang aksi korporasi besar.
Intinya, investor perlu pantau pengumuman pengganti komisaris dan detail rights issue — terutama rasio HMETD dan harga pelaksanaannya. Kalau penggantinya figur kredibel, sinyalnya positif. Tapi kalau lowongan dibiarkan menganga, pasar bisa makin skeptis. Catat jadwal rights issue dan pantau pergerakan PYFA ke depan.

