blank

IHSG Tergelincir, Saham Konstruksi Tak Lagi Bergerak Seragam

Jakarta, INVESTOR-IDN.COM – Di tengah tekanan yang belum reda di pasar saham, satu hal mulai terlihat makin jelas: saham-saham konstruksi tidak lagi bergerak sebagai satu gerbong yang seragam. Ketika Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah dalam beberapa bulan terakhir, respons saham-saham BUMN karya justru terbelah. Ada yang jatuh lebih dalam dari indeks, ada yang tertahan, dan ada pula yang diam-diam tetap diperdagangkan aktif meski tidak banyak dibicarakan.

Tekanan di IHSG dalam periode Februari hingga Mei 2026 datang dari kombinasi yang sudah akrab di telinga pelaku pasar: pelemahan rupiah, keluarnya dana asing, dan sentimen global yang memukul appetite terhadap aset berisiko. Dalam situasi seperti ini, saham-saham yang sensitif terhadap likuiditas dan persepsi utang biasanya kena lebih dulu. Sektor konstruksi BUMN pun kembali menjadi etalase paling nyata dari sentimen itu.

Namun, jika dilihat lebih dekat, gambarnya tidak sesederhana “semua saham karya jatuh.” PTPP misalnya mencatat koreksi yang berat, dengan penurunan sekitar 38,86% dalam tiga bulan terakhir dan harga bergerak di kisaran 380–400. PPRO lebih drastis lagi, turun sekitar 40% dalam sebulan, mencerminkan tekanan yang bukan hanya datang dari pasar, tetapi juga dari problem bisnis yang lebih dalam di level operasional dan arus kas.

Di kelompok lain, WSKT dan WSBP masih memikul beban lama yang membuat investor sulit memberi premi baru. WSKT tetap identik dengan persoalan restrukturisasi dan tekanan kewajiban, sementara WSBP bergerak di harga rendah dengan volatilitas tinggi dan sinyal teknikal yang belum benar-benar pulih. Keduanya masih menarik bagi trader sesaat, tetapi belum sepenuhnya memberi rasa aman bagi investor yang mencari cerita pemulihan yang utuh.

ADHI tampak sedikit berbeda. Saham ini memang tetap berada dalam area tertekan, tetapi pergerakannya tidak sedalam sejumlah emiten lain. Data TradingView menunjukkan harga ADHI di kisaran 266 dengan volatilitas sekitar 3,05%, membuatnya terlihat relatif lebih tenang dibanding nama-nama lain di kelompok konstruksi pelat merah. Meski begitu, beta yang tinggi menandakan bahwa ketenangan itu masih rapuh; bila pasar memburuk lagi, ADHI tetap berpotensi ikut terseret.

Di tengah lanskap yang terbelah itu, ada satu nama yang bergerak agak sunyi tetapi menarik dicermati, yakni WTON. Saham ini tidak mencuri panggung seperti emiten yang melonjak tajam, tetapi juga tidak tampil serapuh saham-saham yang terus tertekan. Dalam tiga bulan terakhir, WTON bergerak di kisaran 77–124, dengan harga terakhir sekitar 81. Secara bulanan, penurunannya sekitar 10%, angka yang tetap mencerminkan tekanan, tetapi belum menunjukkan pola pelarian besar-besaran dari investor.

Yang membuat saham ini berbeda bukan semata-mata penurunan yang lebih moderat, melainkan karakter perdagangannya. Menjelang RUPST pada awal Mei, volume transaksi WTON sempat melonjak hingga 143,77 juta saham dan harga sempat menyentuh level 99. Di pasar yang sedang lelah, lonjakan seperti itu biasanya muncul pada saham yang masih dianggap punya cerita, meski belum tentu menjadi favorit utama. Ia diperdagangkan aktif, tetapi tidak berisik; ditekan, tetapi tidak sepenuhnya ditinggalkan.

Dari sudut pandang valuasi, karakter itu menjadi makin menarik. WTON diperdagangkan pada price to book sekitar 0,2–0,3 kali dan price to sales sekitar 0,2 kali, level yang menempatkannya di area murah dibanding banyak saham lain di sektor terkait. Pada saat yang sama, perusahaan masih membukukan laba pada kuartal I-2026 dan mengantongi kontrak baru yang menunjukkan aktivitas bisnis inti belum berhenti. Di pasar yang sedang gugup, kombinasi seperti ini sering membuat sebuah saham tidak terlalu ramai dibicarakan, tetapi tetap masuk radar investor yang sabar.

Karena itu, membaca saham konstruksi hari ini tidak cukup hanya dengan melihat arah IHSG. Indeks memang sedang turun, tetapi sektor konstruksi justru memperlihatkan seleksi yang lebih tajam. PTPP dan PPRO menunjukkan betapa kerasnya pasar menghukum emiten yang dipersepsikan rapuh. WSKT dan WSBP masih berjuang keluar dari bayang-bayang lama. ADHI menampilkan kestabilan yang relatif lebih baik, meski belum tentu imun. Sementara itu, di sela hiruk-pikuk sektor yang sedang tidak populer, WTON muncul bukan sebagai bintang panggung, melainkan sebagai saham yang diam-diam tetap punya denyut.

Itulah mungkin pembacaan paling jujur terhadap saham-saham konstruksi belakangan ini. Ketika IHSG tergelincir, tidak semua saham karya ikut ambruk dengan cara yang sama. Sebagian jatuh karena beban lama, sebagian tertahan karena ekspektasi yang belum selesai, dan sebagian kecil lain tetap bergerak di ruang sempit yang justru membuatnya menarik. Bukan karena paling nyaring, melainkan karena masih punya alasan untuk diperhatikan.

More From Author

BIPI Rencana Transaksi Material Dengan Persetujuan RUPS

BIPI Ambles 39% dalam Sebulan, Transaksi Material Butuh Restu RUPS

blank

SCPI Tawar Buyback Rp100.000 per Saham, Setelah 13 Tahun Suspen

blank
Family Office
Family Office

Video Pilihan