Jakarta, Investor-idn.com – Ambisi PT Maharaksa Biru Energi Tbk (OASA) untuk bertransformasi total menjadi raksasa energi ramah lingkungan tampaknya harus dibayar mahal. Alih-alih meraup keuntungan dari bisnis pengolahan sampah dan energi terbarukan, kinerja keuangan perusahaan ini justru mengalami tekanan berat pada awal tahun 2026.
Berdasarkan laporan keuangan sementara per 31 Maret 2026, OASA membukukan kerugian bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp23,70 miliar. Angka tersebut melonjak tajam hingga 193,51% jika dibandingkan dengan kerugian pada tiga bulan pertama tahun 2025 yang tercatat sebesar Rp8,08 miliar.
Pemicu utama pembengkakan rugi ini adalah anjloknya pendapatan usaha bersih perusahaan secara drastis. Sepanjang kuartal pertama tahun ini, OASA hanya mampu mengantongi pendapatan sebesar Rp2,38 miliar, atau turun 88,35% dari periode yang sama tahun lalu yang mencapai Rp20,45 miliar.
Jika dibedah lebih dalam, keringnya pundi-pundi keuangan OASA disebabkan oleh tidak adanya pendapatan dari sektor jasa konstruksi (pembangunan fisik) pada awal tahun ini. Padahal, pada awal 2025, lini bisnis tersebut menjadi tulang punggung dengan sumbangan mencapai Rp18,55 miliar. Saat ini, arus pendapatan perusahaan praktis hanya disokong oleh penjualan woodchip (serpihan kayu) sebesar Rp2,38 miliar.
Ironisnya, di tengah pendapatan yang merosot tajam, OASA belum mampu mengerem pengeluaran. Beban usaha perusahaan justru membubung tinggi menjadi Rp17,54 miliar dari sebelumnya Rp9,23… beban usaha ini paling besar dipicu oleh pos jasa profesional (konsultan dan ahli) yang melesat dari Rp324 juta menjadi Rp7,33 miliar per akhir Maret 2026.
Kondisi ini mencerminkan tingginya biaya transisi bisnis yang harus ditanggung perusahaan. Proyek energi terbarukan berskala besar memang menuntut modal awal yang tidak sedikit untuk biaya persiapan, pengurusan legalitas, studi teknis, jasa konsultan, hingga pengaturan pendanaan sebelum akhirnya bisa menghasilkan pendapatan rutin secara jangka panjang.
Sinyal Merah Arus Kas dan Likuiditas
Tekanan berat pada operasional langsung berimbas pada posisi likuiditas (ketersediaan uang tunai) perusahaan yang mulai mengetat. Kas bersih yang digunakan untuk aktivitas operasional membengkak menjadi Rp26,02 miliar pada kuartal pertama 2026, berbanding terbalik dengan periode sama tahun lalu yang hanya minus Rp3,54 miliar.
Akibatnya, posisi kas dan bank OASA tergerus dalam, menyisakan Rp2,52… kas ini turun drastis dari posisi akhir tahun 2025 yang masih kokoh di angka Rp23,62… beban keuangan (bunga utang) perusahaan sejatinya berhasil ditekan menjadi Rp373,81 juta dari sebelumnya Rp1,12… hal ini mengonfirmasi bahwa lonjakan kerugian OASA murni disebabkan oleh nihilnya pendapatan konstruksi dan membengkaknya biaya persiapan proyek, bukan karena jeratan bunga pinjaman.
Di sisi neraca keuangan, utang bank jangka pendek OASA merangkak naik menjadi Rp16,48 miar dari posisi akhir tahun lalu sebesar Rp9,49… total kewajiban (liabilitas) pun terkerek menjadi Rp75,15 miar dari Rp63,51… walaupun rasio utang terhadap modal (debt-to-equity ratio) tergolong aman di level 0,14 kali, ruang gerak uang tunai perusahaan dipastikan sangat sempit karena proyek-proyek strategisnya belum memasuki fase operasi komersial yang menghasilkan duit nyata.
Menanti Proyek Raksasa Bernilai Triliunan
Saat ini, manajemen OASA memang sedang gencar memburu proyek-proyek strategis. Perusahaan tercatat ikut serta dalam tender Proyek Pengolah Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) Danantara di wilayah Bogor Raya dan Denpasar Raya.
Selain itu, melalui anak usahanya, OASA telah menggandeng mitra strategis asal Cina, China Tianying Inc (CNTY), untuk menggarap proyek Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) Cipeucang di Tangerang Selatan. Proyek jumbo ini diperkirakan menelan investasi hingga Rp2,6 triliun, dengan target operasi pada tahun 2028. Namun, dampak finansial dari proyek ini baru akan terasa secara optimal setelah operasional penuh berjalan.
Pekerjaan Rumah Manajemen: Tantangan terbesar OASA saat ini bukan sekadar menunggu proyek-proyek hijau tersebut matang, melainkan menjaga napas perusahaan agar uang kas tidak habis sebelum proyek menghasilkan pendapatan.
Manajemen dituntut untuk mempercepat kepastian pendanaan berbasis proyek (project financing), memperjelas tahapan pembangunan (milestone konstruksi), serta menekan biaya praoperasi secara ketat. Mengandalkan investor strategis atau skema penambahan modal dari pemegang saham baru (private placement) dinilai jauh lebih rasional bagi OASA ketimbang terus menambah utang jangka pendek yang memperberat likuiditas.
Strategi lain yang harus dieksekusi secara agresif adalah melakukan penagihan piutang dan penyelesaian pos uang muka proyek. Merujuk pada laporan keuangan teranyar, OASA masih mencatat piutang dari pihak lain sebesar Rp106,29 miliar serta uang muka jangka panjang yang mencapai Rp323,40 miar.
Selama dana-dana jumbo tersebut masih mandek di pos aset tidak lancar (belum bisa dicairkan segera), siklus arus kas perusahaan akan terus berada di bawah tekanan besar.
Secara fundamental, OASA memiliki visi dan narasi yang sangat kuat di sektor energi masa depan. Namun, sebelum proyek-proyek tersebut berubah menjadi mesin pencetak uang, pelaku pasar akan terus memantau satu hal krusial: seberapa kuat kas perusahaan mampu bertahan sebelum hari kemenangan itu tiba.

