Akusisi Tguk

TGUK Jawab Bursa: Penjualan Daging Beku Melonjak Jadi Rp200,7 Miliar, Piutang Hampir Setara

Investor-idn.com – PT Platinum Wahab Nusantara Tbk (TGUK) menjawab permintaan penjelasan Bursa Efek Indonesia terkait lonjakan penjualan lini daging beku dan posisi piutang pada kuartal I 2026. Bagi investor, jawaban ini penting karena kenaikan pendapatan yang sangat besar datang bersamaan dengan piutang usaha yang hampir setara nilai penjualannya.

Dalam lampiran keterbukaan, TGUK menyebut penjualan lini daging beku mencapai Rp200,7 miliar per 31 Maret 2026. Angka itu melonjak dari Rp726 juta pada periode sebelumnya, setelah perseroan menjalankan lini perdagangan daging beku atau frozen meat.

Perseroan menjelaskan, kenaikan tersebut terutama dipengaruhi permintaan selama Ramadhan dan Idul Fitri. TGUK menyebut periode itu sebagai musim puncak bagi bisnis perdagangan daging, ketika kebutuhan masyarakat, pelaku usaha makanan-minuman, dan distributor meningkat dibandingkan periode normal.

Namun, pertumbuhan penjualan itu datang dengan biaya yang juga besar. Beban pokok penjualan TGUK tercatat Rp191,3 miliar pada 31 Maret 2026, naik tajam dari Rp290 juta pada periode 31 Maret 2025. Secara sederhana, selisih antara penjualan Rp200,7 miliar dan beban pokok Rp191,3 miliar menunjukkan ruang laba kotor yang masih tipis, sekitar Rp9,4 miliar sebelum beban lain.

Bagian yang perlu dicermati investor ada pada piutang. TGUK mencatat piutang usaha sebesar Rp198,3 miliar, relatif sebanding dengan nilai penjualan lini daging Rp200,7 miliar. Manajemen menjelaskan, sebagian besar transaksi dilakukan secara kredit kepada pelanggan bisnis dengan jangka waktu pembayaran 30 sampai 90 hari.

Perseroan juga menyebut sebagian besar transaksi terjadi menjelang akhir periode pelaporan, sehingga pada 31 Maret 2026 sebagian piutang belum jatuh tempo. Manajemen menyatakan pemantauan umur piutang dan evaluasi kolektibilitas dilakukan secara berkala.

Dari sisi persediaan, TGUK melaporkan nilai persediaan Rp16,6 miliar per 31 Maret 2026, turun Rp25,5 miliar dibandingkan periode sebelumnya. Penurunan itu dikaitkan dengan peningkatan penjualan pada periode puncak permintaan daging.

Di luar itu, Bursa juga meminta penjelasan atas utang lainnya kepada Bapak Edie sebesar Rp11,2 miliar. TGUK menyebut utang tersebut muncul sebagai dukungan pendanaan untuk modal kerja dan kelangsungan operasional selama proses pengambilalihan saham berlangsung.

Untuk investor, jawaban TGUK memberi dua sisi cerita. Di satu sisi, lini daging beku mulai menghasilkan penjualan besar. Di sisi lain, besarnya piutang, tipisnya selisih penjualan dan beban pokok, serta kebutuhan modal kerja membuat kualitas arus kas menjadi agenda utama yang perlu dipantau pada laporan berikutnya.

More From Author

Saham COCO

Rights Issue COCO Mulai Diperdagangkan, Risiko Dilusi Bisa 75,61%

Saham SINI

SINI Akuisisi 99,995% Saham KMS Rp1,73 Triliun, Batu Bara Jadi Cerita Baru

blank
Family Office
Family Office

Video Pilihan