Saham WSBP Suspen

Saham WSBP Masih Disuspensi, Konversi Utang Jadi Saham Belum Cukup Angkat Ekuitas

Jakarta, Investor-idn.com– Saham PT Waskita Beton Precast Tbk (WSBP) masih berada dalam tekanan setelah Bursa Efek Indonesia (BEI) menghentikan sementara perdagangan saham perseroan di seluruh pasar sejak 1 Juli 2026. Per Rabu, 22 Juli 2026, belum ada pengumuman pembukaan kembali suspensi saham WSBP.

Suspensi ini bukan semata-mata karena pergerakan harga saham, melainkan terkait kondisi fundamental. WSBP masuk dalam daftar emiten dengan ekuitas negatif berdasarkan laporan keuangan terakhir dan telah berada di Papan Pemantauan Khusus lebih dari satu tahun. Setelah masa pengecualian untuk emiten berekuitas negatif berakhir pada 30 Juni 2026, BEI menerapkan suspensi di seluruh pasar mulai sesi I Periodic Call Auction pada 1 Juli 2026.

Kondisi keuangan terbaru WSBP memang masih berat. Dalam laporan keuangan semester I 2026, perseroan membukukan rugi bersih Rp285,59 miliar, lebih besar dibandingkan rugi Rp236,88 miliar pada periode yang sama tahun lalu. Pendapatan usaha naik menjadi Rp808,07 miliar, tetapi kenaikan beban pokok membuat laba kotor turun dan tekanan neraca belum mereda. Per 30 Juni 2026, ekuitas WSBP masih negatif Rp2,24 triliun.

Di tengah kondisi itu, WSBP juga melanjutkan agenda restrukturisasi utang melalui konversi utang menjadi saham. Pada Juni 2026, perseroan menuntaskan Penambahan Modal Tanpa Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMTHMETD) Tahap VI dengan menerbitkan 178.685.260 saham baru. Harga konversi ditetapkan Rp50,81 per saham, dengan nilai pelaksanaan sekitar Rp9,07 miliar. Saham hasil aksi tersebut dicatatkan di BEI pada 23 Juni 2026.

Aksi ini merupakan bagian dari skema restrukturisasi WSBP pasca-PKPU. Dengan mekanisme debt to equity swap, sebagian kewajiban kepada kreditur tidak dibayar memakai kas, melainkan dikonversi menjadi saham baru. Dalam tahap VI, WIKA Beton (WTON) menjadi penerima saham terbesar, yakni 155.891.759 saham sebagai pengganti piutang dagang terhadap WSBP.

Bagi WSBP, konversi utang menjadi saham dapat membantu mengurangi beban kewajiban dan memperbaiki struktur permodalan secara bertahap. Namun, bagi pemegang saham existing, dampaknya tidak sepenuhnya ringan. Karena saham baru diterbitkan tanpa hak memesan efek terlebih dahulu, porsi kepemilikan pemegang saham lama terdilusi. Secara sederhana, jumlah saham beredar bertambah, sehingga persentase kepemilikan investor lama mengecil jika mereka tidak mendapat alokasi saham baru.

Dilusi dari PMTHMETD Tahap VI sendiri relatif kecil jika dilihat dari tambahan 178,69 juta saham terhadap total saham setelah aksi yang mencapai 56,96 miliar saham. Namun, dalam gambaran lebih besar, konversi utang WSBP telah membuat saham Seri C milik kreditur menjadi bagian dominan dalam struktur modal perseroan. Setelah tahap VI, saham Seri C tercatat 30,60 miliar saham, atau sekitar 53,7% dari total saham ditempatkan dan disetor.

Artinya, pemegang saham lama menghadapi dua risiko sekaligus. Pertama, likuiditas terkunci karena saham masih disuspensi dan tidak bisa diperdagangkan di pasar. Kedua, nilai ekonomi per saham berpotensi tertekan oleh dilusi serta risiko pasokan saham baru dari kreditur apabila suspensi suatu saat dibuka dan pemegang saham baru memilih merealisasikan kepemilikannya.

Meski demikian, konversi utang juga tidak bisa dibaca hanya sebagai sentimen negatif. Tanpa restrukturisasi, tekanan kewajiban WSBP bisa lebih berat. Masalahnya, sampai semester I 2026, konversi tersebut belum cukup untuk mengembalikan ekuitas WSBP ke posisi positif. Karena itu, perhatian investor kini tertuju pada kemampuan perseroan memperbaiki margin, menekan rugi, menjaga arus kas, dan menuntaskan restrukturisasi hingga neraca kembali sehat.

More From Author

Saham ZATA

Suspensi ZATA Dicabut, Saham Kembali Diperdagangkan Mulai Hari Ini

saham Aisa

Kuasi Reorganisasi AISA Efektif, Penurunan Modal Dipakai Bersihkan Defisit

blank
Family Office
Family Office

Video Pilihan