Joseph D. Piotroski

Era Baru Investasi Saham, Siapkan Strategi dengan Piotroski Score

Jakarta, INVESTOR IDN– Piotroski Score telah menjelma sebagai salah satu acuan fundamental di pasar modal, terutama bagi investor yang menempatkan keberlanjutan finansial sebagai prioritas utama. Di balik algoritme scoring yang populer di kalangan analis, hadir pertanyaan besar: apakah perusahaan yang skor Piotroskinya tinggi benar-benar mampu bertahan di era disrupsi keuangan berkelanjutan?

Rumus Piotroski Score, yang digagas oleh akademisi Joseph D. Piotroski dari University of Chicago, menyusun sembilan kriteria berbasis angka keuangan perusahaan. Jangan bayangkan itu sekadar kumpulan angka di atas neraca. Setiap poin di skor ini merefleksikan kondisi nyata sebuah korporasi: mulai dari hasil laba, riwayat utang, efisiensi operasional, hingga arus kas yang benar-benar masuk ke rekening perusahaan. Tak sedikit yang terpukau oleh praktik scoring yang konon mampu menghasilkan return rata-rata belasan persen di pasar Amerika dua dekade silam.

Di Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan mulai menggabungkan praktik-praktik fundamental dengan kerangka sustainable finance, terutama lewat Taksonomi Keuangan Berkelanjutan versi terbaru. Banyak parameter klasik seperti profitabilitas, efisiensi, dan likuiditas kini berdampingan dengan semangat keberlanjutan—seolah tak lagi cukup hanya mengejar laba, tetapi juga memastikan perusahaan sanggup bertahan dalam tekanan ekonomi global dan perubahan regulasi.

PT Chandra Daya Investasi Tbk, salah satu emiten yang terpantau dalam riset semester I tahun ini, menampilkan contoh konkret penerapan Piotroski Score di dunia nyata. Skor 6 dari 9—bukan angka sempurna, namun cukup menggambarkan pondasi yang kokoh di tengah tantangan ekspansi dan penyesuaian pasca IPO. Laba bersih perusahaan menanjak, margin keuntungan membaik, dan efisiensi aset meningkat, meski tantangan pada pos utang dan pendanaan tetap hadir sebagai pekerjaan rumah.

Di balik semua kecanggihan angka, dunia bisnis Indonesia dihadapkan pada transisi mendasar. Triple Bottom Line yang dikembangkan John Elkington menuntut perusahaan mempertimbangkan profit, people, dan planet secara berimbang. Dalam narasi keuangan era baru, Piotroski Score hanya satu sisi dari mata uang strategis. Sisi lainnya adalah keberanian perusahaan dalam menjalankan tanggung jawab sosial dan lingkungan—tanpa kompromi terhadap tata kelola dan transparansi.

Pertumbuhan dana kelolaan ESG dan temuannya di pasar modal domestik menjadi sinyal jelas: investor dan regulator mulai menuntut lebih dari sekadar angka profit. Studi dan data mengindikasikan bahwa model Piotroski Score yang disiplin, bila dipadukan dengan komitmen keberlanjutan, mampu memberikan nilai tambah bagi portofolio dan sekaligus menjadi alat mitigasi risiko.

Meski Piotroski Score bukan formula universal untuk tiap sektor, khususnya yang berkaitan dengan perbankan atau industri berbasis modal intensif, perumusan scoring ini tetap menjadi rujukan penting dalam analisis. Ke depan, tantangan terbesar bukan lagi bagaimana perusahaan memperoleh nilai tinggi di Piotroski Score, melainkan bagaimana mereka mampu merawat nilai tersebut seiring tuntutan tata kelola, keberlanjutan, dan perubahan lanskap ekonomi global yang terus bergerak.

Seluruh landscape keuangan domestik semakin menuntut pelaku usaha dan investor untuk berpikir melampaui sekadar angka. Kolaborasi antara skor fundamental dan prinsip keuangan berkelanjutan menjadi peluang emas untuk membangun bisnis dan investasi yang tangguh. Kini, bukan hanya soal laba hari ini, melainkan kelangsungan perusahaan dan lingkungannya di masa depan. Dengan narasi inilah, pasar modal memasuki gelombang transformasi yang tidak dapat ditawar lagi.

More From Author

IHSG Sepekan Naik Tipis, Simak Deretan Top Gainers dan Top Losers 22-26 September 2025

Saham ASII

Optimisme Investor: Fundamental Kuat Saham ASII Menjadi Daya Tarik Bursa

ASA Media
ASA Media

Video Pilihan