blank

3,2 Triliun Dana Rights Issue INET untuk Masa Depan

Jakarta, INVESTOR IDN– Setelah melalui perjalanan yang penuh tantangan dan keragu-raguan, PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk atau INET kini melesat sebagai pemain utama dalam infrastruktur digital Indonesia. Kinerja perusahaan pada semester pertama 2025 menunjukkan lonjakan pendapatan hingga hampir tiga kali lipat, yaitu sebesar 196,9%, dari Rp15,15 miliar menjadi Rp45,01 miliar. Peningkatan pendapatan ini diikuti oleh ledakan laba bersih yang fantastis hingga 666,7%, mencapai Rp7,77 miliar dibandingkan Rp1,04 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. Laba kotor juga naik signifikan 202,6% ke angka Rp16,78 miliar dengan margin kotor yang membaik, melambangkan efisiensi operasional yang terus dijaga oleh manajemen. Struktur keuangan INET tetap kokoh dengan total aset melonjak 35,55% menjadi Rp311,56 miliar serta liabilitas terkendali sekitar Rp20,11 miliar, yang menandakan modal dan likuiditas perusahaan dalam kondisi sehat meski sedang dalam proses ekspansi agresif.

Perusahaan ini telah melakukan transformasi strategis yang signifikan, berangkat dari penyedia layanan backbone komunikasi untuk lebih dari 100 ISP aktif di Indonesia, kini berkembang menjadi konglomerat digital yang menggabungkan tiga lini bisnis utama. Selain mempertahankan pertumbuhan organik dan pendapatan residual dari segmen ISP dan infrastruktur backbone, INET menancapkan pijakannya ke bisnis Fiber to the Home (FTTH) melalui anak usaha Global Prima Integrasi. Melalui akuisisi ini, perusahaan merencanakan pembangunan 2 juta homepass Wi-Fi 7 di Bali dan Lombok, menargetkan layanan internet berkecepatan hingga 2 Gbps untuk jutaan rumah yang berpotensi menghasilkan tambahan pendapatan hingga Rp300 miliar setiap tahunnya.

Tidak hanya berhenti di sana, INET juga memperluas sayapnya ke bisnis penyedia tenaga kerja dengan mengakuisisi PT Personel Alih Daya (PADA), membuka peluang integrasi teknologi dan manusia yang terkoordinasi dalam menyuplai tenaga ahli untuk industri telekomunikasi nasional. Ambisi yang sama juga dijalankan dengan akuisisi saham mayoritas di PT Trans Hybrid Communication (THC), perusahaan penyedia infrastruktur digital dan solusi telekomunikasi yang memiliki jaringan luas melayani ratusan klien besar termasuk operator seluler dan lembaga finansial. Aset dan layanan THC yang terintegrasi dengan baik diyakini akan semakin memperkokoh posisi INET sebagai raksasa infrastruktur digital di tanah air.

Ambisi INET juga terlihat dari partisipasinya dalam lelang frekuensi 1.4 GHz yang sangat strategis bagi pengembangan layanan Fixed Wireless Access (FWA) berkecepatan tinggi dengan biaya yang terjangkau. Strategi ini ditargetkan untuk memperkuat infrastruktur digital dan menembus pasar yang lebih luas, meskipun kompetisi dari pemain besar seperti MyRepublic yang telah memenangkan beberapa wilayah frekuensi membuat tantangan ini semakin menarik dan kompetitif.

Untuk membiayai semua rencana ambisius tersebut, INET tengah menyiapkan rights issue jumbo sebesar Rp3,2 triliun yang merupakan salah satu penerbitan saham tambahan terbesar di pasar modal Indonesia tahun ini. Dana tersebut sebagian besar dialokasikan untuk pengembangan jaringan FTTH di Bali-Lombok dan pelunasan biaya sewa kabel bawah laut strategis, sementara sisanya untuk mendukung modal kerja anak usaha lain yang sedang tumbuh pesat. Kepemilikan mayoritas saat ini dijaga oleh PT Abadi Kreasi Unggul Nusantara dengan komitmen penuh terhadap keberhasilan rights issue ini, meski bagi investor publik terdapat risiko dilusi signifikan jika mereka tidak berpartisipasi dalam pembelian saham baru.

Di tengah momentum tersebut, saham INET telah menunjukkan performa luar biasa dengan kenaikan harga mencapai 637,93% sepanjang tahun ini dan kapitalisasi pasar mendekati tiga triliun rupiah. Aktivitas investasi institusi pun meningkat dengan net buy signifikan menunjukkan kepercayaan pasar yang menguat terhadap prospek perusahaan. Namun, di balik gemilangnya angka kinerja, masih ada risiko tantangan besar yang mesti dihadapi, mulai dari kompleksitas integrasi akuisisi beruntun, persaingan ketat di bisnis FTTH, risiko keterlambatan proyek, hingga dinamika regulasi yang kerap berubah di sektor telekomunikasi.

Ke depan, INET memproyeksikan pertumbuhan pendapatan yang luar biasa untuk tahun-tahun berikutnya, dengan target mencapai hampir Rp1 triliun dalam jangka menengah. Jika rencana rights issue berjalan mulus dan operasional FTTH serta layanan digital terintegrasi berhasil dieksekusi sesuai target, perusahaan diperkirakan akan tumbuh menjadi konglomerat infrastruktur digital yang dominan di Indonesia, dengan lini bisnis yang terdiversifikasi dan posisi pasar yang kokoh.

Secara keseluruhan, kisah INET adalah narasi transformasi dan ekspansi yang kaya peluang namun juga sarat risiko. Perusahaan yang telah berhasil melesat pesat ini kini berada di persimpangan krusial menuju fase pertumbuhan berikutnya yang menunggu untuk dituliskan oleh setiap langkah strategis mereka. Dunia digital Indonesia tengah menyaksikan dengan seksama permainan besar INET, yang berani bertaruh besar dalam membangun masa depan infrastruktur digital negara ini.

More From Author

blank

Laba Melonjak: Saham PJHB Siap Terbang

blank

Rekomendasi Buku Saham Indonesia 2025: Yuk Belajar Nabung Saham

blank
ASA Media
ASA Media

Video Pilihan