GPSO

GPSO Masuk Fase Baru Tjokro Group, Sahamnya Masih Punya Ruang Re-rating?

Jakarta, Investor-idn.com – PT Geoprima Solusi Tbk (GPSO) memasuki fase yang berbeda setelah masuknya PT PIMSF Pulogadung, bagian dari jaringan bisnis Tjokro Group, sebagai pemegang saham pengendali baru. Cerita GPSO kini bukan lagi sebatas emiten perdagangan besar mesin, melainkan transformasi menuju bisnis komponen mekanikal, machining terpadu, konsultasi manajemen, perdagangan mesin industri, hingga real estat nonhunian.

Transformasi itu mendapat amunisi baru setelah GPSO merampungkan penambahan modal tanpa hak memesan efek terlebih dahulu (PMTHMETD) atau private placement senilai Rp28,46 miliar. Perseroan menerbitkan 66.674.000 saham baru dengan nilai nominal Rp50 per saham dan harga pelaksanaan Rp427 per saham. Seluruh saham baru tersebut diserap oleh PIMSF Pulogadung.

Hingga pemantauan Senin, 13 Juli 2026, katalis GPSO lebih tepat dibaca sebagai kelanjutan dari rangkaian aksi korporasi tersebut, bukan disclosure baru yang mengubah arah cerita. Justru di situlah posisi menariknya: pasar mulai menimbang apakah perubahan pengendali dan perluasan bisnis ini bisa benar-benar diterjemahkan menjadi kinerja 2026.

Masuknya pengendali baru menjadi titik penting bagi GPSO. Manajemen menargetkan pendapatan 2026 sebesar Rp92,47 miliar, melonjak sekitar 1.584% dari realisasi 2025 sebesar Rp5,49 miliar. Perseroan juga membidik laba tahun berjalan Rp10,36 miliar, berbalik dari rugi Rp3,18 miliar pada 2025.

Target tersebut agresif, tetapi bukan tanpa alasan. GPSO sedang menggeser arah bisnis dari perdagangan besar mesin dan jasa survei menuju ekosistem solusi mekanikal yang lebih dekat dengan rantai bisnis Tjokro Group. Pada tahap awal, perseroan juga menyiapkan akuisisi aset tetap PT Jakarta Indah Casting (JIC), termasuk tanah seluas 15.400 meter persegi di Bekasi, bangunan pabrik, serta mesin produksi besi tuang cetak.

Dari sisi saham, pergerakan GPSO mulai kembali menarik perhatian. Mengacu data pasar pukul 10.54 WIB, Senin, 13 Juli 2026, saham GPSO berada di Rp308, naik 8,45% dari penutupan sebelumnya Rp274. Rentang perdagangan hari itu bergerak di Rp290-Rp314, dengan volume 28,64 juta saham dan nilai transaksi sekitar Rp8,73 miliar.

Namun, harga tersebut masih berada jauh di bawah harga pelaksanaan private placement Rp427 per saham. Dengan kata lain, pasar belum sepenuhnya memberi valuasi setara harga masuk pengendali baru. Jika dihitung sederhana, posisi Rp308 masih sekitar 28% di bawah harga placement tersebut.

Proyeksi 2026 GPSO akan sangat bergantung pada realisasi transformasi bisnis. Bila target laba Rp10,36 miliar tercapai dan menggunakan basis saham setelah private placement sekitar 733,34 juta saham, laba per saham secara kasar berada di kisaran Rp14 per saham. Pada harga Rp308, valuasi berbasis target laba itu mencerminkan price to earnings ratio sekitar 21-22 kali.

Angka tersebut menunjukkan dua sisi. Di satu sisi, ada ruang re-rating jika GPSO benar-benar mampu mengubah target agresif menjadi kontrak, pendapatan, dan laba yang nyata. Di sisi lain, valuasi tidak bisa hanya bertumpu pada narasi pengendali baru. Pasar membutuhkan bukti bertahap: integrasi aset berjalan, lini bisnis baru mulai menghasilkan pendapatan, dan margin laba tidak habis oleh biaya ekspansi.

Karena itu, saham GPSO berpeluang tetap menjadi salah satu story stock yang ramai dicermati sepanjang 2026. Katalisnya jelas: pengendali baru, dana segar, arah bisnis baru, dan target kinerja yang tinggi. Tetapi risiko juga sama jelasnya: eksekusi transformasi, pembuktian pendapatan, likuiditas saham, serta volatilitas harga setelah lonjakan sentimen.

Bagi investor, GPSO kini berada pada fase pembuktian. Jika Tjokro Group mampu membawa rantai bisnis mekanikal ke dalam mesin pendapatan perseroan, cerita GPSO bisa naik kelas dari sekadar aksi korporasi menjadi turnaround operasional. Sebaliknya, jika target 2026 meleset, pasar bisa kembali menilai saham ini sebagai emiten kecil dengan ekspektasi yang terlalu cepat mendahului kinerja.

More From Author

Kuntjara CEO WTON

Kuntjara Tetap Pimpin WIKA Beton, Sinyal Kontinuitas di Tengah Ujian Konstruksi

Saham AIMS

AIMS Kembali Diperdagangkan, Pasar Aktif Kembali

blank
Family Office
Family Office

Video Pilihan