Jakarta, Investor-idn.com – PT Trisula International Tbk (TRIS) bergerak lewat dua aksi korporasi sekaligus. Emiten tekstil dan garmen itu menyiapkan pembelian kembali saham atau buyback maksimal Rp15 miliar, bersamaan dengan akuisisi 75% saham PT Lifestyle Pratama senilai Rp20 miliar.
Dua agenda ini penting bagi investor karena menyentuh dua sisi berbeda. Buyback berkaitan langsung dengan jumlah saham beredar dan potensi laba per saham, sementara akuisisi memberi sinyal ekspansi usaha TRIS di tengah upaya menjaga pertumbuhan kinerja.
Berdasarkan keterbukaan informasi dan siaran pers perseroan yang dirangkum IPOTNEWS, Rabu (15/7), buyback TRIS dijalankan selama tiga bulan, mulai 6 Juli hingga 5 Oktober 2026. Perseroan menargetkan pembelian kembali sebanyak-banyaknya 3% dari modal ditempatkan dan disetor atau sekitar 94 juta saham.
Total dana yang disiapkan mencapai Rp15 miliar. Angka tersebut sudah mencakup biaya perantara pedagang efek serta biaya lain yang berkaitan dengan pelaksanaan buyback.
Manajemen menyatakan aksi ini menjadi bagian dari upaya menjaga stabilitas harga saham di tengah dinamika pasar modal. TRIS juga menilai buyback mencerminkan keyakinan terhadap fundamental perseroan.
Secara proforma, pelaksanaan buyback diperkirakan tidak mengubah pendapatan maupun laba tahun berjalan TRIS per 31 Maret 2026. Laba tahun berjalan perseroan tetap dihitung sebesar Rp17,23 miliar.
Namun, efeknya terlihat pada jumlah saham beredar. Jika buyback terealisasi sesuai proyeksi, jumlah saham beredar TRIS turun dari 3.093.211.331 saham menjadi 2.999.211.331 saham. Dengan dasar itu, laba per saham atau earning per share (EPS) berpotensi naik dari Rp5,57 menjadi Rp5,75.
Di luar buyback, TRIS juga mengakuisisi 75% saham PT Lifestyle Pratama senilai Rp20 miliar. Transaksi dilakukan melalui mekanisme kompensasi pemotongan piutang atau set off dari PT Inti Nusa Damai, yang merupakan pihak afiliasi perseroan.
Nilai transaksi tersebut setara 2,38% dari ekuitas TRIS. Karena itu, perseroan menyatakan akuisisi ini tidak tergolong transaksi material dan tidak memerlukan persetujuan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).
TRIS menjelaskan akuisisi dilakukan sebagai bagian dari strategi diversifikasi usaha. Perseroan berharap langkah tersebut memperkuat sinergi bisnis dan memperluas kapabilitas usaha dalam jangka panjang.
Direktur Utama TRIS, Santoso Widjojo, menyampaikan optimisme terhadap prospek perseroan sebagai pemain industri garmen dan tekstil terintegrasi. Ia menunjuk kinerja kuartal I-2026 sebagai salah satu dasar keyakinan tersebut.
Pada tiga bulan pertama 2026, TRIS membukukan penjualan Rp455,33 miliar. Angka ini naik 13% dibandingkan Rp402,34 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Penjualan ekspor masih menjadi motor utama dengan nilai Rp276,24 miliar, tumbuh 17% secara tahunan. Sisanya berasal dari pasar domestik.
Bagi investor, kombinasi buyback dan akuisisi ini memberi dua hal untuk dipantau. Pertama, seberapa besar realisasi buyback benar-benar terjadi di pasar. Kedua, apakah akuisisi Lifestyle Pratama dapat memberi kontribusi bisnis yang terukur setelah masuk ke struktur TRIS.
Belum terdapat proyeksi dampak akuisisi terhadap pendapatan, laba, atau arus kas TRIS. Karena itu, pasar masih perlu menunggu keterbukaan lanjutan atau laporan keuangan berikutnya untuk melihat hasil konkretnya.

