Jakarta, Investor-idn.com – PT BUMA Internasional Grup Tbk (DOID) mencatat perbaikan profitabilitas pada semester I-2026 meski volume operasional dan pendapatan masih tertekan. Sinyal yang paling menonjol datang dari kenaikan EBITDA dan arus kas bebas.
Dalam keterbukaan informasi kepada Bursa Efek Indonesia, DOID menyampaikan rilis kinerja BUMA International Group untuk semester I-2026. Perseroan mencatat EBITDA sebesar US$69 juta, naik 8% dibandingkan US$64 juta pada periode yang sama tahun lalu.
Pendapatan DOID pada periode tersebut mencapai US$693 juta. Secara operasional, volume overburden removal tercatat 186 juta bank cubic meter atau turun 11% secara tahunan, sementara produksi batu bara turun 16% menjadi 32 juta ton.
Penurunan volume tersebut dipengaruhi berakhirnya sejumlah kontrak tambang dan fase penurunan produksi di beberapa lokasi. Namun, operasi inti di luar kontrak yang telah berakhir disebut masih tumbuh, ditopang keandalan armada dan kondisi cuaca yang lebih mendukung.
Perbaikan lain terlihat pada arus kas. Free cash flow DOID mencapai US$39 juta, jauh lebih tinggi dibandingkan US$5 juta pada semester I-2025. Belanja modal juga turun 67% menjadi US$37 juta seiring optimalisasi armada dan pengalihan aset dari lokasi tambang yang telah selesai beroperasi.
Rugi bersih perseroan menyusut menjadi US$50 juta dari US$80 juta pada periode yang sama tahun lalu. Perbaikan tersebut didukung kenaikan EBITDA, keuntungan penjualan aset lahan Atlantic Carbon Group, penurunan beban depresiasi dan amortisasi, serta keuntungan selisih kurs, meski masih terbebani kerugian investasi di 29Metals sebesar US$14,5 juta.
Bagi investor DOID, laporan ini memberi pesan campuran: aktivitas produksi belum sepenuhnya pulih, tetapi efisiensi dan disiplin capex mulai terlihat pada margin dan arus kas. Fokus berikutnya adalah apakah tren perbaikan itu berlanjut pada semester II-2026.

