Saham MIRA

MIRA Jual Aset Rp55 Miliar untuk Tekan Utang Bank

Jakarta, nvestor-idn.com – PT Mitra International Resources Tbk (MIRA) melepas aset tanah dan bangunan senilai Rp55 miliar. Transaksi ini penting bagi investor karena nilainya mencapai 38,32% dari ekuitas perseroan dan diarahkan untuk memperbaiki likuiditas serta menurunkan beban utang.

Dalam keterbukaan informasi kepada Bursa Efek Indonesia (BEI), MIRA menyampaikan transaksi tersebut terkait penjualan tanah dan bangunan oleh perseroan bersama anak usahanya, PT Rama Dinamika Raya, kepada PT Amanah Gudang Persada. Akta jual beli diteken pada 31 Juli 2026.

Objek transaksi berada di Jalan Raya Gunung Putri, Desa Tlajung Udik, Kecamatan Gunung Putri, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Aset tersebut mencakup tanah seluas 25.819 meter persegi dan bangunan gudang sekitar 8.720 meter persegi.

Nilai transaksi seluruhnya sebesar Rp55 miliar, belum termasuk pajak. Angka itu setara 38,32% dari ekuitas MIRA sebesar Rp143,52 miliar berdasarkan laporan keuangan konsolidasian per 31 Maret 2026 yang telah direviu.

Karena nilai transaksi berada di atas 20% tetapi di bawah 50% ekuitas, MIRA menyatakan aksi ini merupakan transaksi material yang tidak memerlukan persetujuan rapat umum pemegang saham. Perseroan juga menyampaikan bahwa transaksi bukan transaksi afiliasi dan tidak mengandung benturan kepentingan.

Harga jual Rp55 miliar tersebut berada sedikit di bawah nilai pasar aset yang dinilai sebesar Rp56,59 miliar. Dalam laporan pendapat kewajaran, selisih harga transaksi terhadap hasil penilaian aset tercatat minus 2,81%, dan rencana transaksi dinilai wajar dari sisi ekonomis dan keuangan.

Bagi neraca MIRA, penggunaan dana menjadi bagian paling material dari keterbukaan ini. Perseroan menyebut transaksi akan digunakan antara lain untuk melunasi seluruh utang bank jangka panjang sebesar Rp19,46 miliar dan sebagian utang bank jangka pendek sebesar Rp5 miliar.

MIRA juga menyebut pelepasan aset dapat meningkatkan likuiditas melalui penerimaan kas, mengurangi beban bunga, serta membantu penyelesaian kewajiban yang telah jatuh tempo, termasuk tunggakan gaji karyawan dan utang lain-lain. Dalam proforma yang disajikan penilai, rugi tahun berjalan Rp1,82 miliar berubah menjadi laba Rp28,42 miliar setelah penyesuaian transaksi.

Meski begitu, investor tetap perlu membaca efek tersebut sebagai dampak transaksi aset, bukan perbaikan otomatis pada bisnis inti transportasi darat. Dokumen MIRA menunjukkan proyeksi dan analisis kewajaran bergantung pada asumsi yang digunakan, sementara kinerja operasional setelah utang ditekan masih perlu dibuktikan melalui laporan keuangan berikutnya.

More From Author

Saham AZKO

Laba ACES Naik 33,3%, Jaringan AZKO Tembus 276 Toko

Saham PGEO

Produksi Listrik PGEO Naik 13,62%, Laba Bersih Tembus US$79,6 Juta

blank
Family Office
Family Office

Video Pilihan