Jakarta, Investor IDN – Investor kawakan Lo Kheng Hong kembali menjadi sorotan setelah tercatat semakin agresif mengoleksi saham PT Intiland Development Tbk (DILD) di tengah tekanan kinerja emiten properti tersebut sepanjang 2025. Data terbaru menunjukkan, Lo Kheng Hong terus menambah porsi kepemilikan hingga sekitar 6,7% saham DILD pada akhir 2025 dan bahkan masih melakukan pembelian berulang menjelang Lebaran 2026.
Dalam beberapa kali transaksi sepanjang Desember 2025, Lo Kheng Hong tercatat memborong saham DILD hingga total kepemilikannya mencapai sekitar 694,07 juta lembar atau setara kurang lebih 6,7% per 23 Desember 2025. Aksi beli ini berlanjut hingga Maret 2026, ketika ia kembali membeli sekitar 1,10 juta lembar saham DILD dalam satu sesi sehingga kepemilikannya bertambah menjadi sekitar 702,43 juta lembar. Langkah konsisten tersebut menunjukkan keyakinan jangka panjang investor yang dijuluki “Warren Buffett Indonesia” itu terhadap prospek Intiland, meski kinerja keuangan perseroan tengah mengalami tekanan berat.
Secara fundamental, kinerja DILD pada 2025 memang belum menggembirakan di level laba bersih. Perseroan membukukan pendapatan usaha sekitar Rp2,46 triliun, turun sekitar 3,5% dibanding 2024 yang sebesar Rp2,55 triliun. Namun, di sisi operasional inti, kinerja justru menunjukkan perbaikan. Beban pokok penjualan dan beban langsung turun signifikan menjadi sekitar Rp1,5 triliun dari Rp1,76 triliun, sehingga laba kotor meningkat menjadi Rp960,48 miliar dari Rp785,35 miliar. Laba usaha juga naik tajam menjadi sekitar Rp672,24 miliar dibanding Rp454,23 miliar di tahun sebelumnya, mencerminkan keberhasilan manajemen menekan beban usaha dan meningkatkan efisiensi operasional.
Meski demikian, perbaikan di level laba usaha tidak mampu mencegah anjloknya laba bersih. Intiland mencatat laba bersih sekitar Rp64,26 miliar pada 2025, merosot sekitar 63% dari Rp174,76 miliar di 2024. Margin laba bersih ikut turun tajam dari sekitar 7% menjadi hanya 3%. Sejumlah laporan menyebut, tekanan terbesar datang dari pos beban lain-lain yang melonjak drastis menjadi sekitar Rp520,86 miliar dari hanya Rp120,48 miliar pada 2024, sehingga menggerus laba tahun berjalan meski kinerja operasional membaik. Kondisi serupa sempat terlihat sejak paruh pertama 2025, ketika laba bersih semester I turun lebih dari 90% akibat beban non-operasional meski laba usaha dan laba kotor meningkat.
Struktur pendapatan DILD pada 2025 relatif terdiversifikasi. Kontribusi terbesar berasal dari segmen perumahan dengan sekitar Rp781,99 miliar, disusul kawasan industri sekitar Rp623,55 miliar, segmen fasilitas Rp534,87 miliar, perkantoran Rp253,48 miliar, high-rise sekitar Rp222,34 miliar, dan hotel sekitar Rp46,13 miliar. Di sisi neraca, ekuitas tercatat naik tipis ke kisaran Rp6,77 triliun, sementara total liabilitas berhasil ditekan ke sekitar Rp6,75 triliun per akhir September 2025, mengindikasikan adanya perbaikan struktur keuangan meski laba bersih tertekan.
Dalam kacamata value investing, kombinasi faktor-faktor ini – penurunan laba bersih yang sebagian besar dipicu beban non-operasional, perbaikan kinerja operasional, serta harga saham yang melemah – berpeluang membuat valuasi DILD tampak menarik. Laporan menyebut, setelah serangkaian koreksi kinerja dan tekanan harga, valuasi saham DILD diperdagangkan pada rasio price to book value (PBV) yang terdiskon dibanding sejumlah emiten properti sekelasnya, sementara aset proyek dan landbank perseroan berada di lokasi strategis di Jakarta dan kota-kota besar lainnya.
Lo Kheng Hong dikenal konsisten mencari saham-saham yang dinilainya “salah harga” – emiten yang fundamental aset dan prospek bisnis jangka panjangnya dianggap masih solid, tetapi untuk sementara tertekan oleh faktor siklus atau beban non-kas sehingga valuasinya menjadi murah. Dalam konteks DILD, ia tampaknya melihat kombinasi valuasi yang terdiskon, perbaikan kinerja operasional, serta potensi pengembangan proyek-proyek besar Intiland sebagai katalis jangka panjang yang belum sepenuhnya tercermin di harga saham saat ini.
Bagi investor ritel, manuver Lo Kheng Hong ini dapat dibaca sebagai sinyal kepercayaan terhadap prospek jangka panjang DILD, namun bukan jaminan bahwa pergerakan harga saham akan langsung berbalik arah dalam jangka pendek. Penurunan laba bersih lebih dari 60% dan lonjakan beban lain-lain menunjukkan bahwa risiko tetap besar, terutama dari sisi pembiayaan dan faktor non-operasional. Dengan demikian, keputusan mengikuti langkah Lo Kheng Hong sebaiknya tetap didasari analisis sendiri terhadap laporan keuangan, profil risiko, dan horizon investasi masing-masing, bukan semata-mata karena figur investor besar masuk ke satu saham tertentu.

