Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatatkan 15 perusahaan dalam pipeline pencatatan saham per 30 April 2026, terdiri dari 11 emiten aset besar dan 4 emiten aset menengah. Jumlah ini menunjukkan aktivitas pasar modal yang masih bergairah meskipun di tengah tekanan indeks global.
Direktur Penilaian Perusahaan BEI, I Gede Nyoman Yetna, mengungkapkan bahwa antrean IPO ini berasal dari berbagai sektor, termasuk energi, infrastruktur, dan teknologi. Perusahaan-perusahaan tersebut tengah dalam proses penilaian dan diharapkan dapat melantai di bursa pada semester II-2026, sejalan dengan upaya BEI memperdalam pasar modal nasional.
Langkah ini diambil di tengah persiapan BEI menghadapi aturan baru free float 15% yang mulai efektif akhir Maret 2026. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama SRO juga tengah mematangkan regulasi untuk memastikan perusahaan tercatat memenuhi ketentuan tersebut. Jumlah perusahaan yang antre IPO ini menjadi sinyal positif bagi likuiditas dan variasi instrumen investasi di bursa.
BEI terus berupaya menarik lebih banyak perusahaan untuk melantai di bursa sebagai bagian dari strategi meningkatkan kapitalisasi pasar. Hingga saat ini, bursa telah mencatatkan lebih dari 900 perusahaan tercatat, menjadikannya salah satu bursa dengan jumlah emiten terbanyak di kawasan ASEAN.
Ke depannya, maraknya aksi IPO diharapkan dapat memperkuat daya tarik pasar modal Indonesia di mata investor asing. Dengan tambahan pasokan saham baru, likuiditas perdagangan berpotensi meningkat dan memberikan alternatif investasi yang lebih beragam bagi pelaku pasar.

