Jakarta, Investor IDN – PT Super Bank Indonesia Tbk (SUPA) resmi memulai perjalanannya sebagai emiten publik melalui pencatatan perdana di Bursa Efek Indonesia pada Rabu (17/12/2025). Menutup babak penawaran umum yang penuh antusiasme, Superbank berhasil menghimpun dana segar sebesar Rp2,79 triliun—angka yang melampaui target awal sebesar Rp2,3–3,1 triliun.
Melalui pelepasan 4,4 miliar saham atau setara 13% dari modal ditempatkan dan disetor penuh, Superbank menetapkan harga IPO di level Rp635 per saham. Harga tersebut merupakan hasil dari proses bookbuilding yang berlangsung pada 25 November hingga 1 Desember 2025.
Penawaran umum yang diselenggarakan 10–15 Desember 2025 itu menunjukkan minat investor yang luar biasa. Pencatatan perdana SUPA mencatat rekor dengan tingkat oversubscription mencapai 318 kali, dengan permintaan investor melampaui satu juta order. Antusiasme ini mencerminkan kepercayaan pasar terhadap fundamental dan prospek pertumbuhan jangka panjang dari bank digital yang didukung oleh ekosistem Grab dan Emtek Group.
Pada perdagangan perdananya, saham SUPA melejit 24,41% atau naik 155 poin ke level Rp790, menembus batas atas harga perdagangan (Auto Reject Atas/ARA). Momentum ini menandakan bahwa investor retail maupun institusi sangat optimis terhadap prospek bisnis Superbank.
Valuasi Kompetitif dalam Industri Perbankan Digital
Dengan harga IPO Rp635 per saham, valuasi Price to Book Value (PBV) Superbank berada di level 2,64 kali. Angka tersebut menempatkan SUPA sebagai salah satu bank digital dengan valuasi paling rendah di antara kompetitor yang telah melantai di bursa.
Dibandingkan dengan Bank Jago (ARTO) yang diperdagangkan pada PBV 2,84 kali, Allo Bank Indonesia (BBHI) di 2,34 kali, dan Bank Aladin Syariah (BANK) di 3,57 kali, valuasi Superbank memberikan ruang menarik bagi investor yang mencari entry point dengan potensi pertumbuhan tinggi.
CEO Sucor Sekuritas, Bernadus Wijaya, menilai posisi valuasi konservatif ini justru membuka peluang signifikan. “Valuasi yang rendah saat IPO membuka peluang rerating (penyesuaian kenaikan valuasi) ke depan, bergantung pada kemampuan Superbank dalam mengeksekusi strategi pertumbuhan dan mengoptimalkan ekosistem digitalnya,” ujarnya.
Rata-rata PBV saham emiten bank digital yang sudah melantai berada di level 2,78 kali, menjadikan SUPA berada di zona yang sangat kompetitif. Lebih dari itu, Superbank hanya berada sedikit di atas BBYB (0,77 kali), bank digital yang sebelumnya dinilai pasar sebagai undervalued.
Strategi Penggunaan Dana: 70% untuk Ekspansi Kredit
Perseroan telah merumuskan rencana konkret untuk memaksimalkan manfaat dari dana IPO sebesar Rp2,79 triliun. Sebesar 70% atau sekitar Rp1,95 triliun akan dialokasikan sebagai modal kerja untuk penyaluran kredit kepada segmen underbanked—masyarakat yang kurang terlayani perbankan—serta UMKM yang menjadi fokus utama pertumbuhan Superbank.
Alokasi 30% sisanya, atau kurang lebih Rp837 miliar, dirancang sebagai belanja modal (capex) untuk periode 2026 hingga lima tahun ke depan. Investasi ini mencakup pengembangan produk pendanaan dan pembiayaan, digital payment system, infrastruktur teknologi informasi, penguatan sistem operasional, investasi pada artificial intelligence (AI) dan data analytics, serta peningkatan keamanan siber.
Presiden Direktur Superbank, Tigor M. Siahaan, menekankan komitmen perseroan dalam memanfaatkan dana ini. “Kami semakin siap memperluas akses kredit, mempercepat inovasi produk, dan menghadirkan layanan finansial yang aman dan relevan bagi jutaan masyarakat Indonesia. Modal yang diperoleh dari IPO ini akan memperkuat fondasi pertumbuhan jangka panjang kami,” ujarnya.
Ekosistem Kuat: Grab, Emtek, dan KakaoBank
Keunggulan kompetitif Superbank terletak pada ekosistem digital yang solid. Setelah IPO, struktur kepemilikan Superbank melibatkan pemain strategis di tingkat lokal dan global. PT Elang Media Visitama (anak usaha Elang Mahkota Teknologi/EMTK) menguasai 27,07%, diikuti PT Kudo Teknologi Indonesia 16,67%, GXS Bank 10,44%, A5–DB Holdings 10,03%, KakaoBank 8,66%, dan Singtel Alpha Investments 7,36%.
Melalui investasinya di berbagai entitas tersebut, Grab Holdings Ltd. memiliki kepemilikan tidak langsung di Superbank. Ekosistem ini memungkinkan Superbank untuk mengintegrasikan produk banking digitalnya ke platform Grab, OVO, dan aset digital Emtek Group lainnya seperti Vidio.
Integrasi strategis ini telah membuahkan hasil nyata. Per Juni 2025, kurang lebih 64,4% dari nasabah Superbank diperoleh melalui Grab dan OVO. Kekuatan akuisisi nasabah ini menjadi moat (keunggulan kompetitif) yang sulit ditiru kompetitor lain yang tidak memiliki akses langsung ke platform semacam itu.
Per September 2025, Superbank telah mengumpulkan 5 juta nasabah, meningkat sekitar 25% dari posisi Juni 2025. Momentum pertumbuhan ini diperkuat oleh strategi cross-selling produk dan layanan ke basis pengguna Grab dan OVO yang sudah mencapai puluhan juta.
Lompatan Kinerja: Dari Rugi ke Profitabilitas
Laporan keuangan periode 8 bulan pertama 2025 (8M25) menunjukkan kemajuan signifikan dalam eksekusi bisnis Superbank. Perseroan mencatat laba bersih sebesar Rp44,5 miliar, turnover spektakuler dari posisi delapan bulan 2024 yang mencatatkan kerugian sebesar Rp192,5 miliar.
Pendorong utama adalah pertumbuhan Net Interest Income (NII) yang melonjak 175% year-over-year menjadi Rp950,4 miliar. Pertumbuhan ini beriringan dengan peningkatan Net Interest Margin (NIM) ke level 11,2%, dibandingkan 8,1% pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Di sisi pembiayaan, perseroan mencatat pertumbuhan 99% year-over-year untuk periode 8M25. Sementara itu, Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh 291% year-over-year, menunjukkan penerimaan pasar terhadap produk simpanan bank digital Superbank yang kompetitif.
Ratio penting lainnya, Loan-to-Deposit Ratio (LDR), menurun ke 93% pada 8M25 dari 183% pada periode sama tahun lalu. Penurunan ini mencerminkan accumulation dana pihak ketiga yang lebih cepat dibanding pertumbuhan penyaluran kredit, memberikan ruang ekspansi kredit yang lebih besar ke depan.
Efisiensi Operasional dan Marjin yang Sehat
Prospektus juga mengungkapkan peningkatan signifikan dalam efisiensi operasional. Cost to Income Ratio (CIR) Superbank turun ke 70,1%, menunjukkan kemampuan manajemen dalam mengendalikan biaya operasional relative terhadap pendapatan. Metrik ini penting karena menunjukkan seberapa efisien bank dalam mengkonversi pendapatan menjadi laba.
Margin keuntungan yang sehat tercermin dari NIM 10,6%, lebih tinggi dari rata-rata industri perbankan konvensional namun sebanding dengan bank digital lain. NIM yang robust ini memberikan buffer terhadap volatilitas suku bunga dan meningkatkan resiliensi earning power bank.
Roadmap Dividen dan Komitmen terhadap Pemegang Saham
Superbank berkomitmen untuk membagikan dividen kepada seluruh pemegang saham setelah IPO dan ketika perusahaan mencatatkan saldo laba positif. Porsi dividen yang direncanakan mencapai maksimal 85% dari laba bersih tahun berjalan.
Namun, manajemen menekankan bahwa realisasi pembagian dividen akan mempertimbangkan sejumlah indikator fundamental dan strategi bisnis. Faktor-faktor yang menjadi acuan antara lain kinerja keuangan bank, tingkat rasio KPMM (Kewajiban Penyediaan Modal Minimum), kesehatan bank secara keseluruhan, serta kondisi pasar dan ekonomi makro.
Pendekatan ini menunjukkan kematangan governance Superbank dan fokus pada pertumbuhan berkelanjutan jangka panjang, bukan hanya distribusi pendapatan jangka pendek.
Tantangan dan Risiko yang Perlu Dimonitor
Meskipun prospek menjanjikan, investor perlu mencermati sejumlah risiko. Ketergantungan tinggi terhadap ekosistem Grab merupakan concentration risk utama. Kinerja Superbank akan memiliki korelasi tinggi dengan kinerja Grab, dan perubahan strategi bisnis Grab dapat berdampak signifikan terhadap operasional bank digital ini.
Risiko IT juga memerlukan perhatian serius, meliputi keamanan data, kemampuan mendukung operasional harian, serta keunggulan kompetitif teknologi dibanding pesaing. Dalam industri perbankan digital yang bergerak cepat, ketertinggalan dalam adopsi teknologi bisa berakibat fatal.
Selain itu, pasar perbankan digital Indonesia terus berkembang dengan pemain baru yang terus bermunculan. Persaingan yang semakin ketat dapat menekan NIM dan meningkatkan biaya akuisisi nasabah.
Momen Penting bagi Industri Perbankan Digital
IPO Superbank menandai pencatatan emiten bank digital ketujuh di Bursa Efek Indonesia. Momentum ini sekaligus menunjukkan bahwa kepercayaan investor terhadap sektor perbankan digital Indonesia tetap kuat, meskipun telah terjadi konsolidasi dan kompetisi yang lebih ketat.
Pencatatan perdana saham SUPA dengan tingkat oversubscription 318 kali memberikan sinyal positif bahwa appetite investor terhadap pertumbuhan digital financial services masih sangat tinggi. Ini mengindikasikan bahwa transformasi digital dalam industri keuangan Indonesia bukan sekadar tren, tetapi pergeseran struktural yang berkelanjutan.
Bagi pasar modal Indonesia, pencatatan SUPA juga menambah keberagaman instrumen investasi di sektor keuangan, memberikan investor lebih banyak pilihan untuk mengekspresikan tesis investasi mereka pada berbagai segmen perbankan digital dengan profil risiko-return yang berbeda-beda.
Ke depan, market akan terus memperhatikan bagaimana Superbank mengalokasikan dan mengoptimalkan penggunaan dana IPO Rp2,79 triliun. Kemampuan perseroan dalam mengeksekusi strategi pertumbuhan kredit yang agresif, sekaligus mempertahankan kualitas aset yang sehat, akan menjadi kunci penentu apakah valuasi saat IPO justified atau akan mengalami repricing di masa mendatang.

