DMS Propertindo Tbk

KOTA (DMS Propertindo Tbk): Mulai Bangkit, Apakah Harga Saham Bisa Naik Lagi?

Jakarta, Investor IDN – Emiten properti hotel‑centric seperti DMS Propertindo Tbk (KOTA) mulai 2024–2025 menunjukkan tanda perbaikan setelah bertahun‑tahun terjebak dalam kinerja negatif, dan di 2026 grafiknya mulai menarik perhatian investor jangka pendek maupun value‑hunting. Di tahun 2024, pendapatan usaha KOTA tercatat sekitar Rp29,38 miliar, naik sekitar 5,4 persen dari Rp27,88 miliar di 2023, didorong oleh kinerja kuat di segmen hotel yang masih menjadi tulang punggung bisnisnya.

Selain pendapatan, kinerja keuangan juga menunjukkan arah perbaikan dari sisi efisiensi: beban usaha turun dari sekitar Rp30,8 miliar di 2023 menjadi Rp27,75 miliar di 2024, yang membantu memperkecil kerugian tahun berjalan dari Rp24,68 miliar menjadi Rp18,07 miliar, atau perbaikan sekitar 26,8 persen. Loncatan paling mengejutkan datang di 2025, ketika laporan menyebut KOTA berhasil mencetak laba bersih sekitar Rp41,63 miliar, lonjakan drastis dari periode sebelumnya yang berada di zona merah.

Dari sisi neraca, total liabilitas Perseroan naik signifikan menjadi sekitar Rp736,93 miliar per Desember 2025, dibanding Rp309,09 miliar di tahun sebelumnya, yang mengindikasikan adanya peningkatan leverage, mungkin terkait ekspansi atau restrukturisasi proyek properti dan hotel. Namun, perbaikan laba dan pengurangan kerugian bertahun‑tahun menunjukkan bahwa fondasi operasional sudah lebih stabil, dan diversifikasi ke segmen properti memberikan kontribusi tambahan di tengah kenaikan okupansi hotel.

Di pasar saham, harga KOTA baru‑baru ini menunjukkan volatilitas yang tinggi. Data 17 April 2026 mencatat harga terakhir di sekitar 70 Rp per saham, dengan perubahan positif sekitar 6 persen dalam sesi yang sama, disertai range intraday antara 66–77 Rp. Dalam satu tahun terakhir, saham KOTA bahkan mencatat kenaikan kumulatif di sekitar lebih dari 180 persen dibanding posisi tahun lalu, meskipun masih berada jauh dari all‑time high di ratusan rupiah pada masa sebelumnya.

Secara valuasi, beberapa sumber menganalisis bahwa KOTA masih berada di level undervalued relatif terhadap beberapa rasio fundamental tertentu, dengan rasio utang terhadap modal yang masih cukup rendah, sementara solvabilitas secara historis termasuk terjaga. Namun, perubahan utang dan struktur liabilitas pada 2025 menunjukkan bahwa investor perlu ekstra hati‑hati: momentum positif kinerja bisa cepat membawa euforia kenaikan harga, tetapi leverage yang naik bisa jadi batu sandungan jika ekspansi tidak berjalan sesuai rencana.

Proyeksi harga 2026: antara momentum recovery dan realistic band
Dengan kinerja laba yang baru muncul di 2025, saham KOTA berada di fase “switch” dari saham konsolidasi tinggi risiko menjadi emiten yang sedang diuji kredibilitas pemulihannya. Jika perusahaan bisa konsisten menjaga margin hotel, menambah kontribusi properti, dan memanfaatkan momentum pemulihan ekonomi 2026, sentimen pasar bisa terus mendukung pergerakan harga ke level baru di atas 90–100 Rp, terutama jika ada realisasi proyek properti baru atau peningkatan okupansi hotel berkelanjutan.

Namun, di tengah volatilitas tinggi dan leverage yang naik, rentang harga yang realistis di sisa 2026 kemungkinan tetap di angka 70–100 Rp dengan banyak swing harian, tergantung laporan kuartal, pengembangan proyek properti, dan kinerja operating hotel. Bagi investor yang haus ekspektasi, KOTA menawarkan cerita “turnaround” dengan katalis harga, tetapi kewajiban untuk memantau beban utang, likuiditas, dan konsistensi laba sangat krusial, mengingat sejarahnya berada di zona merah selama bertahun‑tahun.

Dengan kata lain: KOTA tidak lagi sekadar saham hotel murah di akhir kisah bangkrut, tetapi mulai menunjukkan sinyal perubahan. Tapi seperti semua emiten properti‑hotel di Indonesia, naiknya harga saham tidak hanya bergantung pada laporan laba, melainkan pada kemampuannya bertahan di tengah siklus real estate yang berubah‑ubah dan tekanan biaya serta permintaan hotel yang selalu bergerak sesuai dengan kondisi ekonomi makro.

More From Author

Cuan ESG & Syariah Sekaligus: Mengapa Batavia Global ESG Sharia Equity USD Menarik di 2026

Cuan ESG & Syariah Sekaligus: Mengapa Batavia Global ESG Sharia Equity USD Menarik di 2026

PT Atlantis Subsea Indonesia Tbk

ATLA Melejit di Tengah Euforia Sektor Energi 2026

blank
ASA Media
ASA Media

Video Pilihan