Jakarta, Investor-idn.com – PT Indosat Tbk (ISAT) menutup semester I 2026 dengan pertumbuhan laba yang jauh lebih kencang dibandingkan pendapatan. Bagi investor, kombinasi kenaikan pendapatan, arus kas operasi, dan posisi kas menjadi sinyal penting di tengah kebutuhan belanja jaringan yang masih besar.
Dalam laporan keuangan interim yang disampaikan melalui BEI, pendapatan ISAT mencapai Rp30,65 triliun pada enam bulan pertama 2026. Angka ini naik 13,07% dibandingkan Rp27,11 triliun pada periode yang sama tahun lalu.
Kontributor terbesar masih berasal dari bisnis selular, dengan pendapatan Rp25,53 triliun. Segmen multimedia, komunikasi data, dan internet atau MIDI menyumbang Rp4,69 triliun, sementara telekomunikasi tetap memberi kontribusi Rp431,88 miliar.
Di baris laba, ISAT membukukan laba periode berjalan Rp4,42 triliun, naik 75,88% dari Rp2,51 triliun pada semester I 2025. Laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk tercatat Rp4,31 triliun.
Kenaikan laba juga perlu dibaca bersama struktur pendapatan dan pos non-operasional. Dalam laporan, ISAT mencatat keuntungan bersih yang terkait dengan hilangnya pengendalian atas entitas anak dan transaksi sewa balik sebesar Rp1,52 triliun. Tanpa memahami komponen ini, lonjakan laba berisiko dibaca terlalu sederhana.
Dari sisi kas, arus kas bersih dari aktivitas operasi naik menjadi Rp11,76 triliun dari Rp9,58 triliun. Kas dan setara kas pada akhir periode melonjak menjadi Rp15,78 triliun, dibandingkan Rp5,17 triliun pada akhir semester I 2025.
Total aset ISAT per 30 Juni 2026 mencapai Rp138,31 triliun, naik dari Rp118,63 triliun pada akhir 2025. Dengan skala aset dan kas seperti itu, pasar kemungkinan akan menimbang dua hal secara bersamaan: kemampuan ISAT menjaga pertumbuhan laba dan disiplin pendanaan untuk ekspansi jaringan berikutnya.

