Jakarta, Investor IDN – PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) mengumumkan rencana pembelian kembali saham (buyback) senilai maksimal Rp 1 triliun. Langkah ini menjadi sinyal kuat bahwa manajemen melihat harga saham perusahaan telekomunikasi pelat merah tersebut saat ini berada di bawah nilai wajarnya.
Melalui keterbukaan informasi yang disampaikan ke Bursa Efek Indonesia pada 1 Mei 2026, Telkom menyatakan buyback akan dilakukan baik di bursa dalam negeri (BEI) maupun melalui American Depositary Receipt (ADR) yang tercatat di New York Stock Exchange (NYSE). Artinya, Telkom tidak hanya siap memburu sahamnya di pasar domestik, tetapi juga di pasar global.
“Perseroan berkeyakinan bahwa pelaksanaan Pembelian Kembali Saham tidak akan memberikan dampak negatif yang material bagi kegiatan usaha dan pertumbuhan Perseroan,” tulis Arthur Angelo Syailendra, Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko Telkom, dalam keterbukaan informasi tersebut, Jumat (1/5/2026).
Buyback ini masih membutuhkan restu pemegang saham melalui Rapat Umum Pemegang Saham yang dijadwalkan pada 8 Juni 2026. Jika disetujui, Telkom memiliki waktu 12 bulan penuh — dari Juni 2026 hingga Juni 2027 — untuk merealisasikan pembelian kembali hingga batas maksimal Rp 1 triliun. Manajemen menyebutkan bahwa dana buyback berasal dari kas internal perusahaan melalui mekanisme optimasi kas, dan pembelian dapat dilakukan secara bertahap maupun sekaligus, baik di dalam maupun luar bursa. Batas maksimal pembelian adalah 10 persen dari saham beredar, dengan ketentuan free float tetap di atas 15 persen.
Dari sisi laporan keuangan, buyback ini tidak akan menggerus fundamental Telkom secara signifikan. Manajemen menyebutkan aset dan ekuitas hanya akan berkurang maksimal Rp 1 triliun — setara 0,34 persen dari total aset Rp 291,89 triliun dan 0,65 persen dari total ekuitas Rp 155,01 triliun per posisi terakhir. Yang lebih menarik, buyback ini justru akan meningkatkan laba per saham secara proforma. Dengan berkurangnya jumlah saham beredar, EPS diproyeksikan naik dari Rp 159,33 menjadi Rp 159,82. “Pendapatan Perseroan diperkirakan tidak menurun akibat pelaksanaan Pembelian Kembali Saham. Dampak terhadap biaya pembiayaan juga minimal,” demikian bunyi keterangan resmi manajemen.
PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk bukan nama asing di pasar modal. Perusahaan ini melantai di BEI pada 14 November 1995 menjadikannya salah satu emiten paling senior di bursa. Bergerak di sektor infrastruktur telekomunikasi, Telkom tercatat sebagai penyelenggara jaringan dan jasa telekomunikasi terintegrasi terbesar di Indonesia.
Sebagai BUMN yang mayoritas sahamnya dimiliki oleh Pemerintah Indonesia, Telkom memiliki jaringan yang membentang dari Sabang sampai Merauke. Anak usahanya seperti Telkomsel mendominasi pasar telekomunikasi seluler Tanah Air, sementara IndiHome menguasai segmen fixed broadband. Pertumbuhan pendapatan Telkom diperkirakan masih didorong oleh bisnis data dan digital. Anak usaha seperti Telkomsel dan IndiHome menjadi engine pertumbuhan utama, sementara efisiensi operasional terus dijalankan untuk menjaga margin.
Beberapa faktor menjadi pendukung prospek saham TLKM tahun ini. Digitalisasi nasional yang terus berjalan meningkatkan permintaan infrastruktur telekomunikasi secara signifikan. IndiHome yang memiliki semacam monopoli alami di segmen fixed broadband memberikan moat kompetitif yang sulit ditembus pesaing. Dividen yield Telkom yang konsisten juga terus menarik investor jangka panjang. Buyback ini sendiri menunjukkan keyakinan manajemen terhadap prospek perusahaan dan dalam sejarah pasar modal, aksi ini biasanya menjadi katalis positif.
Namun ada pula faktor yang perlu dicermati. Kompetisi di segmen fixed broadband kian ketat pasca penerapan kebijakan Open Access. Beban belanja modal untuk jaringan fiber dan 5G masih tinggi. Suku bunga global yang fluktuatif dan tekanan capital outflow di emerging market juga masih membayangi.
Konsensus analis memperkirakan TLKM masih menjadi pilihan defensif di tengah ketidakpastian pasar. Dalam skenario bullish, target harga saham diperkirakan bergerak di kisaran Rp 3.800 hingga Rp 4.200 per lembar, didorong oleh buyback dan pertumbuhan bisnis data. Skenario base case menempatkan harga di rentang Rp 3.200 hingga Rp 3.600 dengan pertumbuhan yang stabil. Sementara dalam skenario bearish, harga berpotensi turun ke level Rp 2.600 hingga Rp 2.900 apabila tekanan makro ekonomi memburuk.
Beberapa katalis yang patut dipantau investor ke depan antara lain hasil RUPS 8 Juni 2026 yang akan menentukan apakah buyback disetujui pemegang saham, kecepatan dan volume eksekusi buyback di pasar, laporan keuangan semester I 2026, kebijakan dividen tahun ini, serta realisasi ekspansi jaringan 5G.
Dalam sejarah pasar modal Indonesia, aksi buyback oleh BUMN besar seperti Telkom selalu menjadi perhatian pasar. Ada empat alasan mengapa langkah ini penting. Pertama, buyback merupakan sinyal bahwa manajemen menganggap saham mereka undervalued — dan karena manajemen adalah pihak yang paling tahu nilai intrinsik perusahaan, sinyal ini biasanya direspons positif oleh pasar. Kedua, dengan berkurangnya jumlah saham beredar, laba per saham naik secara otomatis. Ketiga, buyback sering diartikan sebagai bentuk bottom fishing oleh emiten, yang kerap mendorong investor ritel ikut masuk. Keempat, penggunaan kas internal menunjukkan bahwa likuiditas perusahaan berada dalam kondisi yang sangat sehat.

