Saham PGAS

Dividen PGAS Rp125 per Saham, Yield 7,5% Bikin Ngiler, Buruan Catat!

Jakarta, Investor IDN – PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) atau PGN resmi menyetujui pembagian dividen tunai sebesar USD 172,29 juta atau setara Rp3,04 triliun untuk tahun buku 2025. Keputusan ini disahkan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan yang digelar 22 Mei 2026, dengan payout ratio konsisten di angka 80% dari laba bersih tahun 2025 sebesar USD 215,36 juta.

Setiap pemegang saham PGAS bakal menerima dividen Rp125,6 per saham. Dengan harga saham yang sempat menyentuh Rp1.895 pada 25 Mei 2026, dividend yield yang ditawarkan mencapai kisaran 6,6% hingga 7%, tergantung timing masuk investor. Angka yield ini jauh lebih menggiurkan dibanding deposito yang hanya menawarkan bunga sekitar 5% atau rata-rata dividen emiten BUMN lain yang biasanya di bawah 5%.

Jadwal pembagian dividen sudah keluar. Cum dividen di pasar reguler dan negosiasi jatuh pada 4 Juni 2026, sementara ex dividen pada 5 Juni 2026. Untuk pasar tunai, cum dividen dijadwalkan 8 Juni 2026 dan ex dividen 9 Juni 2026. Recording date atau tanggal pencatatan Daftar Pemegang Saham yang berhak menerima dividen adalah 8 Juni 2026, dengan pembayaran dividen dijadwalkan cair pada 27 Juni 2026. Artinya, investor yang mau ikut bagi-bagi dividen PGAS harus sudah masuk paling lambat 4 Juni 2026 di pasar reguler atau negosiasi.

Keputusan manajemen mempertahankan payout ratio 80% ini cukup mengejutkan mengingat laba bersih 2025 turun ke USD 215,36 juta dibanding tahun sebelumnya yang mencapai USD 339,42 juta di tahun buku 2024. Penurunan laba ini terutama disebabkan oleh tekanan margin dari kenaikan harga gas dan biaya operasional yang meningkat seiring ekspansi infrastruktur jaringan pipa. Namun, ekuitas PGAS masih solid di USD 3,60 miliar, menunjukkan fundamental yang tetap kuat meski kinerja laba tertekan.

Kabar baiknya, kinerja PGAS di kuartal pertama 2026 menunjukkan tren pemulihan yang signifikan. Perseroan mencatatkan laba bersih sebesar USD 90,45 juta atau setara Rp1,55 triliun, melonjak 45,84% dibanding periode sama tahun lalu yang hanya USD 62 juta. Lonjakan laba ini terjadi meski pendapatan sedikit turun, yang menunjukkan keberhasilan manajemen dalam menjaga efisiensi operasional dan mengoptimalkan margin usaha di tengah dinamika sektor energi.

Dari sisi proyeksi, beberapa analis masih memberikan pandangan optimistis untuk PGAS meski konsensus mulai terpecah. CGS International Sekuritas merevisi naik target harga PGAS menjadi Rp1.800 dengan rekomendasi add, sementara Indo Premier memberikan rating HOLD dengan target harga Rp1.800 per saham. Sucor Sekuritas lebih bullish dengan menurunkan rating menjadi HOLD tapi tetap memasang target harga Rp2.140 per saham. Namun, konsensus analis yang dihimpun Bloomberg per Maret 2026 menunjukkan bahwa mayoritas atau 56,5% analis menyematkan pandangan hold, sementara 39,1% masih merekomendasikan buy dan hanya 4,3% yang menyarankan jual.

Analis memperkirakan pembayaran dividen sebesar 90% berdasarkan laba bersih setelah pajak tahun 2025 yang seharusnya menghasilkan dividend yield sekitar 7%, meski angka ini masih di bawah perusahaan batubara atau energi Indonesia lainnya. Proyeksi pendapatan dan laba bersih PGAS untuk tahun 2026 diperkirakan masing-masing mencapai USD 4,09 miliar dan USD 326 juta, menunjukkan potensi pertumbuhan yang solid ke depan.

Prospek jangka panjang PGAS tetap menarik mengingat perseroan tengah menambah pasokan gas dari berbagai blok baru dan memperkuat infrastruktur regasifikasi. Harga saham PGAS yang sempat terkoreksi ke level Rp1.705 pada akhir Mei 2026 justru bisa jadi momen akumulasi bagi investor jangka panjang, terlebih dengan kombinasi yield dividen tinggi dan potensi capital gain dari target harga analis yang berkisar Rp1.800 hingga Rp2.140.

Buat investor yang sudah hold PGAS dari harga bawah, dividen Rp125,6 per saham ini jelas bonus manis. Namun buat yang baru mau masuk, perlu dicermati beberapa risiko seperti volatilitas harga gas global yang sangat mempengaruhi kinerja PGAS, tekanan margin dari kenaikan biaya operasional, dan sentimen makro terkait pelemahan rupiah yang bisa jadi pedang bermata dua. Meski begitu, dengan yield 7% dan potensi upside dari recovery kinerja Q1 2026, PGAS tetap layak masuk watchlist untuk strategi akumulasi bertahap di level support Rp1.700 hingga Rp1.800.

Yang jelas, catat tanggal 4 Juni 2026 di kalender karena itu cum dividen terakhir buat dapetin jatah cuan dari raja gas tanah air ini. Jangan sampai kelewatan momentum dividen jumbo yang cuma datang setahun sekali.

More From Author

Saham Lopi

LOPI Rights Issue 1,4 Miliar Saham Tanpa HMETD

MSCI

Morgan Stanley Borong AMRT Rp204 Miliar, CGS Malah Lepas DILD Rp57,8 Miliar

blank
Family Office
Family Office

Video Pilihan