Jakarta, Investor-idn.com – Arus dana asing di pasar saham kembali memperlihatkan arah yang berbeda antara PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) dan PT Intiland Development Tbk (DILD). Di satu sisi, Morgan Stanley tercatat agresif mengoleksi AMRT, sementara di sisi lain CGS International Securities Singapore justru mengurangi eksposur di DILD.
Berdasarkan data transaksi, Morgan Stanley & Co. International Plc membeli saham AMRT pada 29 Mei dengan harga rata-rata Rp1.150 per saham. Nilai transaksinya mencapai Rp204,4 miliar, dengan porsi saham yang ditransaksikan 0,4% dan kepemilikan pasca-transaksi berada di level 9,3%.
Sementara itu, CGS International Securities Singapore Pte. Ltd. tercatat menjual saham DILD pada 2 Juni di harga rata-rata Rp123 per saham. Total nilai transaksi mencapai Rp57,8 miliar, dengan porsi saham yang ditransaksikan 4,5% dan kepemilikan pasca-transaksi turun ke 5,7%.
Pergerakan broker asing ini datang di tengah kontrasnya fundamental kedua emiten. AMRT masih menunjukkan pertumbuhan bisnis yang relatif solid, sedangkan DILD belum lepas dari tekanan pada pendapatan dan laba bersih.
Pada kuartal I-2026, AMRT membukukan pendapatan Rp35,24 triliun, sedikit di atas ekspektasi pasar. KB Valbury memperkirakan pendapatan perseroan naik 9,1% yoy dan laba bersih tumbuh 10,4% sepanjang 2026, dengan target harga Rp2.100 per saham.
Prospek AMRT juga ditopang strategi ekspansi. Perseroan menargetkan pembukaan 1.000 gerai baru pada 2026, sekaligus memperkuat bauran produk dan efisiensi biaya.
Berbeda jauh, DILD masih berkutat dengan pelemahan kinerja. Pendapatan kuartal I-2026 turun 3,3% menjadi Rp619,8 miliar, sementara laba bersih hanya Rp14,0 miliar. Marketing sales perseroan pun baru mencapai Rp169,0 miliar, masih jauh dari target tahunan Rp2,0 triliun.
Data lain menunjukkan laba bersih DILD pada kuartal I-2026 bahkan hanya Rp2,5 miliar, turun dari Rp10,6 miliar pada periode yang sama tahun lalu. Dengan kinerja seperti ini, pasar tampaknya belum melihat katalis kuat yang cukup untuk mengangkat sentimen saham tersebut.
Dengan demikian, aksi beli asing di AMRT terlihat sejalan dengan prospek kinerja yang masih bertumbuh, sedangkan aksi jual di DILD mencerminkan kehati-hatian terhadap emiten properti yang masih menghadapi tekanan operasional.
