Jakarta, Investor-idn.com – PT Solusi Sinergi Digital Tbk. (WIFI) membidik perluasan usaha ke konstruksi sentral telekomunikasi. Rencana penambahan KBLI 42206 itu menjadi penting karena perseroan mencoba masuk lebih dalam ke rantai pembangunan infrastruktur konektivitas, bukan hanya layanan digital dan jaringan.
Dalam keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI), WIFI menyampaikan rencana penambahan kegiatan usaha Konstruksi Sentral Telekomunikasi. Perseroan akan meminta persetujuan pemegang saham dalam RUPS yang dijadwalkan pada 11 September 2026.
Studi kelayakan yang disampaikan dalam dokumen BEI menghitung rencana tersebut memiliki Net Present Value (NPV) positif sebesar Rp929.799.774.000. Profitability index tercatat 8,30640, sedangkan payback period diperkirakan 1 tahun 5 bulan.
Rencana kegiatan baru itu mencakup pekerjaan konstruksi sentral telekomunikasi, termasuk dukungan terhadap jaringan dan konektivitas. WIFI menyatakan penambahan KBLI diharapkan membuka sumber pendapatan baru dan memperkuat posisi bisnis perseroan dalam industri telekomunikasi.
Dokumen BEI juga memberi konteks industri. Sektor teknologi informasi dan komunikasi disebut menyumbang 4,40% terhadap PDB nasional dan tumbuh 8,35% secara tahunan. Namun, dalam periode 2021-2025, pendapatan telekomunikasi hanya tumbuh 16% sementara jumlah pengguna naik 25%, membuat ARPU turun 8,8% dari USD2,73 menjadi USD2,49 per bulan.
Konteks itu menunjukkan mengapa ekspansi ke infrastruktur menjadi relevan. Ketika pendapatan layanan telekomunikasi menghadapi tekanan ARPU, peluang pertumbuhan dapat bergeser ke pembangunan jaringan, kapasitas, dan layanan konektivitas yang lebih terintegrasi.
Dari sisi struktur pemegang saham, PT Investasi Sukses Bersama menjadi pemegang saham utama WIFI dengan 2,89 miliar saham atau 54,42%. Djoni memegang 280 juta saham atau 5,27%, sedangkan masyarakat di bawah 5% menggenggam 2,14 miliar saham atau 40,30%.
Bagi investor, angka studi kelayakan menjadi bahan awal untuk menilai potensi rencana ini. Namun, realisasinya tetap bergantung pada persetujuan RUPS, kesiapan eksekusi proyek, modal kerja, serta kemampuan WIFI mengubah perluasan KBLI menjadi kontrak dan pendapatan berulang.

