Jakarta – Indonesia memiliki cadangan panas bumi yang melimpah dan termasuk salah satu yang terbesar di dunia. Namun, dari total potensi 29.544 MW, baru sekitar 4,9% yang dimanfaatkan. Ruang pengembangan yang sangat besar ini menjadi peluang emas bagi emiten-emiten energi panas bumi seperti PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO), PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), hingga PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA).
Secara fundamental, prospek ketiga emiten tersebut dipandang cukup solid. PGEO saat ini tengah menggarap 19 proyek dengan kapasitas 530 MW senilai Rp87 triliun, yang secara bertahap akan mendorong pertumbuhan pendapatan dan EBITDA menuju target 1,7 GW pada 2034. Sementara BREN melalui Star Energy Geothermal telah mengoperasikan hampir 1 GW kapasitas, menjadikannya salah satu pemain panas bumi terbesar di dunia.
Adapun DSSA, meskipun bisnis utama masih didominasi batu bara, ekspansi ke energi baru terbarukan termasuk panas bumi memberi potensi diversifikasi jangka panjang. Langkah ini dinilai dapat memperkuat valuasi dan mengurangi ketergantungan perusahaan pada komoditas fosil.
Saham Panas Bumi Jadi Incaran Investor
Dari perspektif investor, ekspektasi jangka panjang pada sektor panas bumi cukup kuat menjadi daya tarik. Pemerintah telah menegaskan komitmen transisi energi melalui target bauran energi baru terbarukan (EBT) dan dukungan anggaran ratusan triliun. Selain itu, PLN sebagai offtaker siap menyerap produksi listrik panas bumi. Kepastian pasar ini menjadi faktor yang mengurangi risiko penyerapan energi yang sering menghantui sektor EBT.
Menurut pengamat pasar modal sekaligus founder Republik Investor, Hendra Wardana, tren global menuju ekonomi rendah karbon memberi keuntungan bagi emiten panas bumi. Hendra menilai, saham-saham emiten panas bumi berpotensi menjadi pilihan strategis bagi investor jangka panjang.
“Tak heran, secara teknikal, PGEO mulai menarik ketika menembus level 1.375 dengan target ke 1.620, BREN masih solid di atas MA20 dengan target terdekat Rp10.000, sedangkan DSSA punya pola swing menarik dengan target Rp120.000,” ujarnya, Jumat (3/10/2025). Sentimen positif ini diyakini dapat mendorong harga saham emiten energi panas bumi ke level yang lebih tinggi, sejalan dengan meningkatnya fokus investor pada sektor ramah lingkungan.
Tantangan Besar di Balik Peluang
Meski peluang besar terbuka, sektor panas bumi tidak lepas dari tantangan yang signifikan. Pertama, biaya investasi relatif tinggi karena membutuhkan eksplorasi, pengeboran, hingga pembangunan infrastruktur. Kondisi ini berisiko menekan arus kas perusahaan sebelum proyek menghasilkan listrik.
Kedua, faktor regulasi dan perizinan yang kompleks dapat memperlambat realisasi proyek. Selain itu, risiko teknis dari eksplorasi sumur panas bumi juga cukup tinggi, yang bisa menyebabkan proyek gagal mencapai kapasitas optimal. Di sisi lain, volatilitas kurs rupiah terhadap dolar AS menjadi risiko tambahan, mengingat mayoritas belanja modal menggunakan mata uang asing.
“Meski prospek panas bumi dalam jangka panjang sangat menjanjikan, investor tetap perlu mencermati aspek manajemen risiko dan kapasitas pendanaan emiten,” kata Hendra. Hal ini penting agar potensi pertumbuhan tidak justru terganggu oleh hambatan struktural maupun finansial.
Disclaimer: Tulisan ini bersifat informatif dan tidak dimaksudkan sebagai ajakan membeli atau menjual saham maupun instrumen investasi lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing individu.
(Penulis: Pipit Ramadhani/Foto: Gretar Ívarsson via Wikimedia Commons)












