Danasupra Erapacific Tbk

DEFI (Danasupra Erapacific Tbk) 2026: Profil, Kinerja, dan Proyeksi Saham di Tengah Transformasi Bisnis

Jakarta, Investor IDN – PT Danasupla Erapacific Tbk (kode saham: DEFI) awalnya beroperasi sebagai perusahaan multifinance yang bergerak di tiga lini utama: leasing (sewa guna usaha), factoring (anjak piutang), dan pembiayaan konsumen. Perusahaan yang berdiri pada 1994 dan melakukan IPO pada 2001 ini fokus membiayai kebutuhan korporasi dan konsumen, terutama kendaraan bermotor, rumah, alat berat, serta pembiayaan multiguna.

Lokasi kantor pusatnya berada di Jakarta, dan model bisnisnya berbeda dari bank atau fintech konvensional karena DEFI lebih banyak bermain di skema pembiayaan berbasis aset (secured) dengan struktur anjak piutang, leasing, dan pembiayaan konsumen. Dalam beberapa tahun terakhir, perusahaan ini menarik perhatian karena justru melakukan transformasi besar setelah pencabutan izin usaha pembiayaannya di 2022 dan suspend perdagangan saham di awal 2022.

Kinerja 2025–Awal 2026: Cantik di Permukaan, Tapi Masih Rapuh
Jika dilihat sekilas, pendapatan 2025 DEFI tercatat Rp7,81 miliar, naik dari Rp6,34 miliar di 2024, yang terlihat sebagai tren pertumbuhan. Namun di balik itu, kinerja profitabilitas memburuk: laba bruto turun dari Rp3,17 miliar di 2024 menjadi Rp2,71 miliar di 2025, sementara beban operasional melesat, khususnya beban umum dan administrasi yang melonjak dari Rp4,87 miliar menjadi Rp10,14 miliar.

Akibatnya, DEFI mencetak rugi sebelum pajak Rp11,31 miliar di 2025, jauh lebih dalam dari rugi Rp1,25 miliar di 2024, dengan rugi tahun berjalan sekitar Rp11,33 miliar. Di sisi neraca, total aset turun dari Rp39,20 miliar di 2024 menjadi Rp31,42 miliar di 2025, sementara liabilitas naik sedikit dari Rp2,32 miliar menjadi Rp3,11 miliar, dan ekuitas menyusut tajam dari Rp36,88 miliar menjadi Rp28,30 miliar.

Dari data rasio fundamental, DEFI masih tercatat sebagai saham tier kecil dengan kapitalisasi pasar di kisaran ratusan miliar rupiah, dan ROA/ROE 2024 sempat rebound positif setelah beberapa tahun negatif, menunjukkan ada perbaikan paruh‑jalan, tapi belum stabil.

Pergerakan Saham 2026: Rally Spekulatif atau Momentum Baru?
Di awal 2026, saham DEFI tercatat sering menjadi kuda hitam di bursa, dengan kenaikan harga harian yang tiba‑tiba. Misalnya pada Maret 2026, saham ini sempat melonjak lebih dari 25% dalam sehari saja, menandakan kembalinya minat spekulator setelah masa kritis sebelumnya. Pada periode 13–17 April 2026, kenaikan harga DEFI bahkan mencapai sekitar 226% dalam satu pekan, dengan penutupan di kisaran Rp163 per saham, meski kenaikan ini terjadi di tengah kinerja fundamental yang masih tertekan.

Secara jangka lebih panjang, pergerakan saham DEFI justru sedang mengalami koreksi besar: dalam tiga bulan terakhir sebelum April 2026, saham ini turun 41,37%, secara year‑to‑date (YTD) melemah 45,30%, dan dalam satu tahun terakhir terjun sampai sekitar 88,80%. Ini menandakan bahwa meskipun ada rally spektakuler, saham ini masih berada di zona high risk, high volatility, dengan dominasi spekulasi dan sentimen transformasi bisnis.

Transformasi Bisnis dan Rights Issue 2026
Kunci pembacaan saham DEFI di 2026 adalah transformasi bisnis setelah pencabutan izin usaha pembiayaan. Perusahaan kini beralih dari fokus inti sebagai multifinance ke arah diversifikasi bisnis, termasuk pengembangan unit usaha non‑keuangan seperti potensi investasi di sektor F&B, broadcasting, dan IT, sebagian di antaranya telah atau sedang diuji dalam bentuk soft opening atau tahap awal operasi.

Dalam kuartal kedua 2026, manajemen DEFI mengumumkan kajian rencana rights issue untuk memperkuat modal dan mendukung strategi baru ini. Perusahaan juga sedang membahas kemungkinan kerja sama dengan investor strategis, di mana struktur investasi dan nilai dana yang masuk masih dalam pembahasan. Selama masa transisi, dana perusahaan banyak ditempatkan di instrumen keuangan aman untuk menjaga likuiditas sambil menunggu realisasi proyek‑proyek baru.

Proyeksi Saham DEFI 2026: Peluang, Skenario, dan Risiko
Secara fundamental, DEFI 2026 masih berada di fase “turnaround” yang belum menunjukkan pemulihan kuat di laporan keuangan inti, sehingga kenaikan harga saham yang tajam lebih banyak dipicu faktor teknikal, likuiditas, dan sentimen transformasi bisnis, bukan kinerja operasi yang kuat. Jika rencana rights issue terealisasi, modal perusahaan berpotensi menguat, namun investor perlu mengawasi apakah dana benar‑benar digunakan untuk ekspansi bisnis yang berkelanjutan atau sekadar restrukturisasi neraca.

Dari sisi pasar, saham DEFI masuk kategori low‑cap, high‑beta dengan histori volatilitas ekstrem, sehingga sangat rentan fluktuasi dan sentimen jangka pendek. Proyeksi harga jangka pendek paling realistis adalah sangat bullish jika ada aksi korporasi (rights issue, investor strategis, atau restrukturisasi utang) yang dipahami positif oleh pasar, tetapi juga sangat bearish jika kinerja keuangan belum menunjukkan perbaikan nyata atau jika rencana tersebut batal atau gagal dieksekusi.

Kesimpulan: Investasi DEFI 2026 untuk Profil Investor seperti Apa?
Dengan kinerja keuangan yang masih rapuh, struktur modal menipis, dan pergerakan harga yang sangat volatil, saham DEFI 2026 lebih cocok untuk investor spekulatif atau trader jangka pendek yang toleran terhadap risiko tinggi, bukan untuk investor defensif yang mengutamakan konsistensi laba dan stabilitas neraca.

More From Author

Sekolah Rakyat PU

Sekolah Rakyat dan Sekolah Unggulan: Katalis Baru untuk Saham Konstruksi dan Teknologi di BEI

S & P Global

Kalkulasi Profit Hijau: Mengapa Skor S&P Global Menjadi Penentu Inflow Modal 2026

blank
ASA Media
ASA Media

Video Pilihan