Jakarta, INVESTOR IDN — Sengkarut tata kelola ekspor komoditas Indonesia ternyata jauh lebih rumit dari sekadar urusan memantau harga jual di pasar global. Tantangan terbesarnya justru bersembunyi di balik kompleksitas mekanisme perdagangan internasional yang kerap mengaburkan nilai ekonomi riil dengan nilai administratif yang tercatat di atas kertas.
Menurut Thendri Supriatno, pendiri Transform Institute, realita bahwa potensi penyusutan nilai ekspor sumber daya alam sering kali menggunakan modus yang sulit dideteksi. Praktik ini tidak melulu berupa manipulasi harga referensi internasional yang mudah dilacak, melainkan bermain pada ranah teknis. Celah tersebut mencakup perbedaan penetapan kualitas atau grade komoditas, selisih pengukuran kuantitas seperti tonase dan kadar air, praktik transfer pricing antarperusahaan terafiliasi, hingga struktur kontrak perdagangan yang sengaja dirancang terlampau rumit.
Menghadapi celah struktural tersebut, kehadiran PT Danantara Sumber Daya Indonesia (DSI) tidak boleh hanya dikerdilkan sebagai sekadar kasir pengelola devisa. DSI harus diposisikan sebagai pusat intelijen ekonomi nasional (Economic Intelligence Center) yang modern dan berbasis data. Institusi ini wajib mengawasi urat nadi perdagangan secara utuh dalam memantau komoditas sejak dari titik produksi, pengangkutan, pelabuhan, hingga wujudnya berubah menjadi devisa yang masuk ke dalam negeri.
Guna mewujudkan ekosistem pengawasan tanpa celah, DSI harus mengorkestrasi platform digital nasional yang mengintegrasikan data lintas kementerian dan lembaga, mulai dari Kementerian ESDM, Bea Cukai, Bank Indonesia, hingga laboratorium independen. Lebih tajam lagi, pemerintah harus mengerahkan teknologi Artificial Intelligence (AI) dan mahadata (Big Data) untuk mendeteksi pola transaksi tidak lazim, membedah deviasi kualitas, serta memberi peringatan dini kepada regulator secara real time.
Langkah radikal lainnya mencakup penerapan Digital Commodity Passport yang memuat identitas digital komoditas dari hulu ke hilir, serta adopsi mirror statistics untuk mencocokkan data ekspor RI dengan data impor di negara tujuan demi membongkar ketidaksesuaian.
Pada akhirnya, kesuksesan DSI diukur dari kemampuannya memastikan bahwa setiap ton batu bara, nikel, hingga tetes migas yang dikeruk dari bumi pertiwi kembali secara utuh ke dalam sistem ekonomi nasional. Jika mesin intelijen ekonomi ini berputar maksimal, DSI tidak sekadar menebalkan pundi-pundi negara, namun akan menjelma menjadi pilar tangguh penjaga stabilitas Rupiah dan jangkar kedaulatan ekonomi untuk generasi mendatang.
